Selasa, 06 Oktober 2009

Tikus Selokan di Pemerintahan

22 Agustus 2009 tepatnya hari Sabtu pelantikan Dewan Perwakilan Rakyat terpilih periode 2009-2014 digelar di dua tempat bersamaan yaitu di Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep Madura. Namun anehnya resepsi pelantikan di dua kabupaten di pulau madura ini terlihat berbeda dengan resepsi pelantikan biasanya.
Di Kabupaten Sumenep acara pelantikan dewan terhormat tersebut dimeriahkan oleh demo Himpunan Mahasiswa Islam yang masih meragukan komitmen para anggota dewan terpilih tersebut, lebih-lebih pada anggota dewan yang terpilih lagi. Menurut mereka anggota dewan yang terpilih lagi diperiode ini masih banyak yang tidak menjalankan fungsi dan kewajibannya pada periode sebelumnya(radar pamekasan,38).
Di kabupaten sumenep, acara pelantikan tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di kabupaten pamekasan tersebut. Yang berbeda hanyalah pendemo berasal dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang bergabung dengan aliansi Bem se Kabupaten Sumenep. Mereka menuntut angota Dewan Perwakilan Rakyat baru terpilih untuk segera menuntaskan semua amanah yang diemban. Mulai dari konflik PT.Garam dengan petani, korupsi, serta penolakan atas Badan Pengembangan Wilayah Suramadu(BPS) yang dinilai melanggar otonomi daerah(radar madura 29).
Dalam peristiwa ini di satu sisi penulis merasa bangga karena dengan peristiwa tersebut setidaknya memberi jawaban kepada kita bahwa fungsi mahasiswa sebagai control social masih dapat kita rasakan. Mahasiswa selain sebagai control social juga sebagai agen perubahan yang selalu dituntut untuk kritis yang tentunya transformative demi kemajuan bangsa dan Negara Indonesia.
Namun disisi lain penulis memendam beribu pertanyaan yang berhubungan dengan peristiwa di atas. Yang mungkin mempertanyakan tentang kinerja para wakil rakyat selama ini. Terlalu hinakah mereka sehingga kepercayaan rakyat yang seharusnya kita percayakan harus pupus begitu saja seiring gugurnya daun di musim kemarau.bahkan dihari pelantikannyapun harus dimulai atau dimeriahkan dengan beberapa tuntutan yang di bungkus dalam bentuk aksi massa. Sungguh menyedihkan negri kita ini. Yang mana dewan yang seharusnya terhormat malah menjadi sebaliknya di mata rakyat. Mereka dimata rakyat tak ubahnya seperti tikus-tikus kantor yang menyamar dengan jas dan dasi serta sepatu mengkilapnya yang siap melenyapkan uang Negara.
Semoga mereka sadar serta dapat menjalankan amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh rakyat demi kemajuan bangsa dan Negara Indonesia yang kita cintai ini. Serta penulis juga berharap kepada rakyat untuk selalu mendukung dan mensukseskan program-program pemerintah yang tujuannya mensejahterkan rakyat, terutama rakyat yang masih membutuhkan uluran tangan kita semua. Karena bagaimanapun kita adalah satu. Satu bangsa, satu Negara, satu bahasa serta satu tanah air kita yaitu tanah air Indonesia walaupun kita berbeda dalam agama, suku serta kepercayaan tapi semua itu adalah keindahan dalam keberagaman dalam kekayaan yang dimiliki oleh rakyat Indonesia. (Acheng)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar