Sabtu, 31 Oktober 2009
Komunikasi Pemasaran
Etika komunikasi
Kamis, 22 Oktober 2009
Antara Cinta & Sayang
Rabu, 07 Oktober 2009
Kembalikan Hak Mereka….
Dia bakar kekar ototnya dengan kepalan
Untuk menjadikan sawah ini berair
Demi bulir-bulir padi kehidupan
Berdarah hatinya oleh goresan
Untuk hutan ini kembali hijau
Demi satwa kehidupan
Dingin berselimut ombak
Untuk protein ikan-ikan laut
Demi otak kehidupan
Mereka para pahlawan yang tak kenal bolpen emas senayan
Hanya dengan cangkul dan arit kecil mereka berjuang
Bahkan tak bersandal asal budi dapat makan
Mereka para pahlawan yang tak mengenal kursi lembut senayan
Hanya dengan bibit dan ranting mereka berjuang
Bahkan tanpa jas hujan walau kadang harus kedinginan dalam malam
Mereka para pahlawan yang tak mengenal laptop senayan
Hanya dengan perahu dan jarring mereka berjuang
Bahkan tanpa asuransi walau kadang harus tenggelam oleh ganasnya gelombang
Tapi……….mereka disenayan.
mengenal bolpen emas, duduk dikursi empuk, berjas, berdasi dengan sepatu mengkilap dan laptop ditangan, terus menghabiskan uang rakyat serta mengabaikan nasip rakyat
sadarlah………..
kembalikan hak mereka………..
demi pahlawan kita………….kebenaran.(acheng)
Selasa, 06 Oktober 2009
Dari Sebuah Keperihatinan.

Keperhatinan terhadap anak jalanan ternyata juga dirasakan oleh seorang tokoh yang bernama Didit Hape. Di acara Musik dan Tokoh yang disiarkan oleh stasiun televisi Republik Indonesia (TVRI) pada hari minggu tanggal 23 Agustus 2009 itu Didit menceritakan awal terbentuknya sebuah sanggar yang dijadikan tempat belajar anak jalanan yang sekarang dikenal dengan nama sanggar Alang-alang.
Sedikitpun dia tidak pernah berfikir atau memiliki cita-cita untuk membuat sebuah sanggar tersebut. Cuman karena perjalanan karir dan pekerjaannya sebagai fotografi surat kabar yang sering mengambil gambar pedagang kaki lima yang sedang digusur, pengamen yang sedang di uber-uber petugas keamanan dsb. Membuat Didit selalu kefikiran. Setelah pulang kerja kadang bukan ketenangan atau kepuasan yang dia rasakan seperti layaknya pekerja-pekerja lainnya. Tapi bahkan berbagai pertanyaan menghantui fikirannya. Kefikiran terhadap anak-anak jalanan yang ditangkap oleh petugas lalu dibawa masuk kedalam truk, kemanakah dia dibawa? Ibu-ibu yang grobak dan tempat jualannya dihancurkan, kemanakah ibu-ibu itu sekarang? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin jawabannya tidak akan datang begitu saja.
Maka bermula dari itulah lelaki paruh baya itu mulai mengumpulkan anak-anak pengamen dan setiap malam kumpul disebuah terminal yang terkenal dengan terminal Joyoboyo. Dan perkumpulan itu diberi nama Sekolah Malam Pengamen atau yang biasa disingkat SMP oleh mereka. Yang awalnya hanya berjumlah 7 anak semakin bertambah dan sampai mencapai 40 anak jalanan. Ditempat itulah Didit mengajarkan tentang etika dan sopan santun dalam mengamen. Dan beliau juga bersukur karena metodenya sampai sekarang masih diterapkan oleh kebanyakan pengamen dikota surabaya. Sempat suatu ketika Didit dipanggil oleh petugas terminal dan tidak diperbolehkan kumpul diterminal itu lagi, alasannya mengganggu katanya. maka mulai saat itu Didit dan para anak jalanan tersebut pindah kesebuah tempat kosong tidak jauh dari terminal tersebut.
Lambat laun bergabung juga beberapa anak-anak pedagang asongan sehingga dibuat juga Sekolah Malam Asongan atau yang biasa disingkat SMA oleh mereka. Walaupun sekolah ini tidak formal dan menggunakan fasilitas seadanya tapi manfaat dan niat baik dari seorang Didit untuk memperhatikan anak-anak jalanan merupakan sebuah prilaku yang patut diacungi jempol.
Beliau juga menjelaskan bahwa belia memberi julukan para anak jalanan itu dengan panggilan anak negri. Karena kalau anak jalanan sudah terkesan negatif dan tidak berkekuatan hukum katanya. karena kalau anak negri diatur dalam Undang-undang 45 ayat 34 bahwa anak miskin dan terlantar adalah tanggung jawab pemerintah. Maka dari itu Didit berharap pemerintah tidak hanya menyalahkan mereka yang menjadi pengamen atau pedagang asongan sebagai perusak pandangan atau pengganggu ditempat umum. Bahwa kewajiban pemerintahlah untuk memberikan penghidupan yang layak dan melindunginya bukan malah di uber-uber atau dipukulinya.
Didit juga menjelaskan kenapa tidak memberi julukan anak bangsa atau anak negara, dan kenapa harus anak negri? “Karena kalau anak bangsa adalah kita semua dari sabang sampai marauke katanya adalah anak bangsa, sedangkan kalau anak negara adalah mereka yang ada dirumah tahanan seperti dimedaeng” tuturnya.
Dari sinilah sejarah Sanggar Alang-alang terbentuk. Dan sampai sekarang sanggar ini masih menjadi tempat belajar anak-anak pengamen dan pedagang asongan. (acheng)
Tikus Selokan di Pemerintahan
Di Kabupaten Sumenep acara pelantikan dewan terhormat tersebut dimeriahkan oleh demo Himpunan Mahasiswa Islam yang masih meragukan komitmen para anggota dewan terpilih tersebut, lebih-lebih pada anggota dewan yang terpilih lagi. Menurut mereka anggota dewan yang terpilih lagi diperiode ini masih banyak yang tidak menjalankan fungsi dan kewajibannya pada periode sebelumnya(radar pamekasan,38).
Di kabupaten sumenep, acara pelantikan tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di kabupaten pamekasan tersebut. Yang berbeda hanyalah pendemo berasal dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang bergabung dengan aliansi Bem se Kabupaten Sumenep. Mereka menuntut angota Dewan Perwakilan Rakyat baru terpilih untuk segera menuntaskan semua amanah yang diemban. Mulai dari konflik PT.Garam dengan petani, korupsi, serta penolakan atas Badan Pengembangan Wilayah Suramadu(BPS) yang dinilai melanggar otonomi daerah(radar madura 29).
Dalam peristiwa ini di satu sisi penulis merasa bangga karena dengan peristiwa tersebut setidaknya memberi jawaban kepada kita bahwa fungsi mahasiswa sebagai control social masih dapat kita rasakan. Mahasiswa selain sebagai control social juga sebagai agen perubahan yang selalu dituntut untuk kritis yang tentunya transformative demi kemajuan bangsa dan Negara Indonesia.
Namun disisi lain penulis memendam beribu pertanyaan yang berhubungan dengan peristiwa di atas. Yang mungkin mempertanyakan tentang kinerja para wakil rakyat selama ini. Terlalu hinakah mereka sehingga kepercayaan rakyat yang seharusnya kita percayakan harus pupus begitu saja seiring gugurnya daun di musim kemarau.bahkan dihari pelantikannyapun harus dimulai atau dimeriahkan dengan beberapa tuntutan yang di bungkus dalam bentuk aksi massa. Sungguh menyedihkan negri kita ini. Yang mana dewan yang seharusnya terhormat malah menjadi sebaliknya di mata rakyat. Mereka dimata rakyat tak ubahnya seperti tikus-tikus kantor yang menyamar dengan jas dan dasi serta sepatu mengkilapnya yang siap melenyapkan uang Negara.
Semoga mereka sadar serta dapat menjalankan amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh rakyat demi kemajuan bangsa dan Negara Indonesia yang kita cintai ini. Serta penulis juga berharap kepada rakyat untuk selalu mendukung dan mensukseskan program-program pemerintah yang tujuannya mensejahterkan rakyat, terutama rakyat yang masih membutuhkan uluran tangan kita semua. Karena bagaimanapun kita adalah satu. Satu bangsa, satu Negara, satu bahasa serta satu tanah air kita yaitu tanah air Indonesia walaupun kita berbeda dalam agama, suku serta kepercayaan tapi semua itu adalah keindahan dalam keberagaman dalam kekayaan yang dimiliki oleh rakyat Indonesia. (Acheng)
ORANG YANG MENGATAKAN DIRINYA PALING PINTAR ADALAH MEREKA ORANG YANG PALING BODOH
“rumongso biso” yang berarti “merasa bisa” memiliki konotasi yang negatif. Orang yang merasa bisa belum tentu dia bisa tapi orang yang “biso rumongso” yang dapat dimaknai “bisa merasa” cenderung lebih arif dan berkesan positif. Karena orang yang “merasa bisa” akan mengatakan kalau dirinya bisa walaupun sebenarnya tidak demikian sehingga orang yang “merasa bisa” cenderung bersifat sombong. Dan begitu sebaliknya orang yang “bisa merasa” akan mengatakan bisa apabila memang dia bisa dan akan berusaha untuk bisa apabila dia memang belum bisa dan ini akan kelihatan lebih arif dibanding kita merasa bisa tapi kenyataannya kita tidak bisa.
Saya berkesimpulan bahwa orang yang merasa bisa memang tidak selamanya negative, karena orang yang merasa bisa adalah orang yang memiliki tinggkat kepercayaan diri yang tinggi. Dan ini akan bernilai sangat positif jika memang orang tersebut begitu adanya dalam artian dia memang bisa. Cuma yang dipermasalahkan adalah mereka yang tidak bisa dan mengaku bisa yang tentunya ini adalah orang yang belum bisa jujur kepada dirinya sendiri.
Sedangkan orang yang bisa merasa tentunya adalah mereka yang tau siapa dirinya. Who am I ? dia bisa menempatkan dirinya disaat dia bisa dan dia juga akan mengatakan tidak bisa dikala dia memang benar-benar tidak bisa. Sehingga kejujuran memang sangat ditekankan dan diaplikasikan dengan tidak mengurangi tingkat kepercayaan diri dalam terus berusaha untuk menjadi bisa.
Saya jadi teringat waktu saya belajar di salah satu pondok moderen di Kabupaten Sampang yaitu Pondok Moderen Darussyahid. Disana saya diajarkan bahwasanya orang belajar dibagi menjadi empat kelompok.
Pertama adalah mereka tahu kalau dirinya tahu. Ini adalah tipe orang yang mengenali kemampuan dirinya dan mengetahui bahwa siapa dirinya sesungguhnya. Orang yang seperti ini memiliki dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama dia akan terus belajar untuk menambah pengetahuannya sedangkan kemungkinan yang kedua dia akan berhenti belajar karena dirinya sudah merasa bisa.
Kedua adalah mereka tahu kalau dirinya tidak tahu. Ini adalah tipe orang yang tidak jauh berbeda dengan diatas cuma dalam tingkat kepercayaan terhadap dirinya masih kurang karena belia mengetahui kalau kemampuannya masih belum apa-apa. Dan orang yang seperti ini akan selalu berusaha dan terus belajar untuk menjadi tahu seta dengan sendirinya tingkat kepercayaan dirinya akan meningkat dikala pengetahuannya bertambah.
Ketiga adalah mereka tidak tahu kalau dirinya tahu. Ini adalah tipe orang yang selalu merendah diri karena orang ini merasa dirinya belum bisa walaupun sebenarnya dia bisa. Tipe seperti ini adalah orang yang cenderung haus akan ilmu. Dan orang ini akan selalu belajar dan terus meningkatkan pengetahuannya tanpa akan merasa puas dengan apa yang telah dimilikinya.
Sedangkan yang terakhir adalah mereka yang tidak tahu kalau dirinya tidak tahu. Orang yang termasuk ke dalam golongan yang terakhir ini adalah orang yang sangat bebahaya karena orang ini tidak menyadari kalau dirinya tidak tahu dan otomatis kalau sedah tidak menyadari kalau dirinya tidak tahu tentunya orang ini tidak akan berusaha untuk menjadi tahu.
Maka pertanyaannya sekarang adalah kita termasuk orang yang golongan keberapa? Jawabanya ada pada diri anda sendiri karena yang sangat mengetahui akan diri anda adalah diri anada sendiri. Kalau diri anda sudah tidak mengenal diri anda apalagi orang lain yang belum tentu selalu memperhatikan anda atau mengenal anda secara lebih dekat.
Maka pesan dari saya adalah jadilah seperti padi, semakin ilmu kita bertambah maka usahakan kita semakin menunduk dalam artian tidak sombong dengan ilmu yang kita miliki karena ilmu yang ada didunia ini yang manusia pelajari hanya ibarat setetes air dilautan apabila dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki oleh Allah subhana wataala jadi tidak ada alasan kepada kita untuk merasa sombong dengan ilmu yang kita miliki. (Acheng)
Harapan Akan Sebuah Keadilan.......!
Ngung.........ngung............. bunyi gas sepeda motor yang sengaja dibuat mainan dari belakang mengejutkanku. Spontan aku menoleh kearah bunyi tersebut. Wah ternyata imam temanku yang terkenal dengan ilmu bela dirinya. Dia pernah dikirim ke negara malaisia untuk mewakili indonisia. Tapi sayang dia cedra dan tidak berhasil memenangkan pertandingan.
“Wah...... dari mana ?” sapanya dengan sangat semangat seraya menjulurkan tangannya mengajakku untuk berjabat tangan sebagai tanda eratnya ikatan persaudaraan kita.
“Dari kampus, biasa cari internetan gratis. Kamu sendiri dari mana ?”Jawabku seraya melontarkan pertanyaan balik sambil menerima jabatan tangannya.
“Dari fakultas fisib lihat pengumuman penerima beasiswa.”
“Emang sudah keluar pengumumannya?” Tanyaku penuh rasa penasaran.
“Sudah tadi siang. Kamu belum lihat ta?” Dia balik bertanya kepadaku.
“Belum, gmn kamu lolos?” Tanyaku.
“Alhamdulilah aku lolos seleksi.” Jawabnya dengan sedikit menampakkan rasa sukur kapada tuhannya.
“Wah selamat klo gitu!” Ucapan selamat aku ucapkan seraya aku jabat tangannya dengan tanda aku turut bahagia atas rezeki yang diberikan oleh Allah untuk membantu meringankan beban biaya kuliahnya.
“Terimakasih sobat, semoga kamu juga lolos seleksi. Ya udah aku duluan key..........!” imam membalas ucapan selamatku seraya mendoakan semoga aku juga dapat beasiswa serta berpamitan untuk lebih dulu pulang., karena dia menaiki sepeda motor bersama teman kosnya.
Imam memang mahasiswa yang cerdas serta pintar membagi waktu. Sehingga sampai saat ini ditengah kesibukannya dia sudah berhasil meraih banyak prestasi baik dibidang akademik maupun organisasi. Beliau memang patut dijadikan contoh atau panutan dalam memanfaatkan waktu.
Sambil meneruskan perjalanan pulang aku melamun jauh membayangkan sosok seorang imam yang sangat istimewa dimataku. Karena walaupun dia cerdas dan termasuk orang yang tinkatan ekonomi menengah keatas sedikitpun dia tidak pernah merasa sombong bahkan dalam berteman pun beliau tidak pernah membeda-bedakan, buktinya disaat popularitasnya melambung tinggi karena kecerdasannya dia masih mau menganggapku yang pas-pasan ini sebagai temannya.
“Sungguh luar biasa............” gumamku dalam hati. Jadi pantaslah kalau disetiap ada seleksi beasiswa dia selalu lolos.
Tanpa terasa ternyata hari sudah beranjak malam. Dan saya sudah berada didepan kosanku. Tanpa ba-bi-bu aku langsung memasuki kamarku dan langsung mengambil peralatan mandi serta bergegas kekamar mandi untuk menghilangkan bau keringat dan rasa penat karena hampir seharian internetan. Setelah selesai mandi aku langsung solat magrib dan berdoa “ ya Allah ampunilah dosa hambamu ini dan dosa kedua orang tua kami serta sayangilah beliau seperti beliau menyayangi kami sewaktu kami masih kecil, dan tuntunlah kami kejalan yang engkau ridhoi. Serta berikan kami yang terbaik menurut-MU untuk dunia dan akhiratku. Karena hanya engkaulah yang maha mengetahui atas segala apa yang tidak kami ketahui. Tiada daya dan kekuatan kecuali atas izin dan kehendak-MU ya Allah, hanya kepada engkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan karena tiada yang sulit bagi-MU ya Allah.
***
Ke esokan harinya aku bangun lebih awal dari biasanya, karena sudah tidak sabar rasanya untuk melihat namaku terpampang di papan pengumuman bersama teman-teman yang lain yang juga lolos seleksi beasiswa. Dengan bergegas aku kekamar mandi dan mengguyur seluruh tubuh yang masih terasa kaku karena masih merasa ngantuk ini dengan air bak mandi yang lumayan terasa dingin dan membuat rasa ngantukku hilang dengan seketika.
Setelah mandi aku segera menunaikan ibadah solat subuh. Dan kali ini aku kembali berdoa dengan penuh harapan tuhan akan mendengar doaku. Selesai solat dan berdoa aku merapikan kamar kosku yang kelihatan sedikit berantakan karena sudah lama tidak tersentuh oleh penghuninya dikarenakan lebih sering internetan. Maklum mumpung ada internetan gratis biasanya sampai tidak sadar waktu.
Alarm handponeku berbunyi menunjukkan waktu sudah pukul 06.30. itu tandanya aku sudah harus bergegas berangkat kekampus tercinta. Memang sengaja alarmku di setting satu jam lebih awal dari biasanya. Karena hari ini adalah hari yang istimewa dan telah lama aku nanti-nantikan.
Dengan dibarengi ucapan bismillah dan pasrah penuh kepada yang maha kuasa aku ayunkan kaki kiriku keluar dari kamar kosku untuk menuju kampus tercintaku. Perjalanan memang masih terlihat sangat sepi hanya beberapa becak yang siap beroprasi berbaris di pinggiran jalan. Tampak beberapa orang pengemudi dengan topi dan handuk dibahunya. sebuah harapan akan pulang membawa uang sangat nampak jelas terekam di wajahnya.
Sebuah penantian terhadap sebuah harapan yang tidak jauh berbeda dengan manusia yang lainnya yaitu sebuah penghidupan atau sesuap nasi untuk melanjutkan hembusan nafas dalam sebuah pengabdian terhadap keluarga tecintanya. Di balik kerutan otot yang kian termakan usia masih setia mengayuh becak walau harus tertatih-tatih dengan imbalan hanya dua ribu rupiah sekali mengantarkan. Beginilah negri ini ...... pengangguran dimana-mana.........kemiskinan masih meraja lela.......... pemerintah seakan buta..........tidak seperti pada masa kampanye yang segalanya dijanjikan oleh para calon wakil rakyat tapi ternyata hanya sebuah angin surga.
Dan sekarang tinggallah sebuah kaos partai yang sudah lusuh oleh perasan keringat yang masih menempel ditubuhnya menjadi saksi bisu kebohongan para wakil rakyat yang katanya akan menyampaikan suara jeritan dan tangisan serta ratapan para rakyat kecil yang tertindas. bagaimana tidak kaos yang bertuliskan” kami siap mengemban amanah” hanya salah satu kata-kata busuk yang digunakan untuk bisa mencuri hati rakyat dan melenggang kesenayan dan setelah itu entah kemana menghilang jangankan membuatkan kaos untuk para penarik becak yang dulu menyumbangkan suaranya pada saat pemilu, membuka kaca mobil dinasnya pada saat lewat dalam acara kunjunganpun sudah sangat menjijikkan.
Jadi pantaslah kalau kang Iwan mengirim surat lewat lagunya untuk mengingatkan para wakil rakyat yang isinya
Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Disana..........digedung DPR
Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman-teman dekat
Apalagi sanak famili
Dihati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Dikantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negri ini
Dari sabang sampai marauke
Saudara dipilih bukan dilotre
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami taksudi memilih para juara
Juara diam, juara hek hek, juara hah...ha....ha....
Tidak terasa lamunanku kian jauh mengingat kembali lagu-lagu kang Iwan yang sarat dengan makna dan pesan moral tersebut. Dan lewat lagu inilah aku kembali berharap para wakil rakyat bisa menjadi wakil rakyat yang bisa merakyat yang selama ini dirindukan oleh rakyat indonesia. Dan tanpa terasa ternyata langkahku sudah berada didepan pintu gerbang kampus. Segera aku masuk menuju kantor fisib yang letaknya tidak begitu jauh dibelakang kantor pusat. Satelah sampai disana mataku langsung tertuju kepada sebuah papan pengumuman dan mencari pengumuman yang berisikan nama-nama yang lolos seleksi beasiswa tersebut.
Satu persatu kubaca nama-nama yang tertera dipengumuman tersebut sampai akhirnya aku sampai pada nama terakhir peserta yang lolos seleksi beasiswa tersebut. Herannya diriku tidak menemukan namaku. Dengan perasaan tidak percaya aku ulangi dan kubaca satu persatu dari sekian nama yang lolos dalam seleksi beasiswa kali ini tapi tetap saya tidak menemukan namaku. kini semakin jelaslah kalau namaku memang tidak ada dipengumuman itu.
Lemas, tidak percaya seraya berharap ada kesalahan dalam pengetikan menjadi jawaban dalam kebingungan walaupun kemungkinan itu hanya ada jika ramayana dalam kisah mahabarata hidup kembali dan menuliskan namaku dipengumuman itu.
Tuhan...............
Kemana hambamu akan bawa sedih ini
Jika memang benar hambamu tak layak mendapatkan beasiswamu
Tuhan ............
Terlalu hinakah hambamu ini
Sampai hambamu harus meratapi harapan panjang ini
Tuhan...........
Hamba paham pintu rizkimu luas dan tidak hanya disini
Tapi hamba juga paham tuhan bahwa ini satu-satunya harapan hamba selama ini
Untuk hamba bisa bayar uang semesteran minggu depan
Tuhan ..........
Memang hamba tak pantas untuk menyalahkan keputusanmu
Tapi hamba tak kuat menerima semua ini
Tuhan............
Berilah hambamu kekuatan
Temukanlah hambamu dengan kebahagiaan
Yaitu jalan yang engkau ridhoi
Semoga keadilan segera datang.
Hatiku terus berdoa dalam lantunan puisi sayu dengan dihiasi deraian air mata yang penuh pengharapan akan keadilan akan segera datang. Bagaimana tidak dalam daftar yang lolos seleksi beasiswa ternyata mereka yang sebagian besar tergolong ekonomi menengah keatas. Buktinya mereka kekampus dengan mengendarai sepeda motor, memiliki handpone dan mereka yang perokok berat. Lantas bagaimana denganku yang serba kekurangan. Jangankan kekampus naik sepeda motor mau naik sepeda enkol saja sampai sekarang hanya masih sebuah mimpi yang tidak tau kapan akhirnya. Walaupun Nidji mengatakan kalau mimpi adalah kunci. Jangankan memiliki handpone untuk dapat berteduh dari panas dan hujan saja saya harus mengabdi menjadi sebua takmir masjid. Jangankan merokok, untuk mengganjal perut lapar saja harus gali lobang tutup lobang layaknya lagu Roma Irama. Jangankan beli pulsa buat smsan, memikirkan biaya semesteran sudah tidak ketulungan.
Kalau yang dijadikan pertimbangan adalah Indeks Prestasi yang notabeni diperoleh dengan kecurangan karena setiap ujian saya yakin tidak akan lebih dari 20% yang menjawab dengan berlandaskan kejujuran. Lantas kapan mahasiswa yang kurang pintar dan kurang mampu mendapat kesempatan untuk belajar agar dapat menggapai cita-citanya. Kalau yang jadi landasan adalah mereka yang belum pernah mendapatkan beasiswa. Maka ini adalah mutlak kebohongan karena nama-nama yang tertera dipengumuman adalah wajah-wajah lama yang sudah sering bergelut dengan beasiswa bahkan ironisnya ada satu nama yang mendapatkan dua beasiswa.
Kalau bukan tiga diatas yang menjadi landasan pertimbangan para pengambil keputusan untuk menetapkan mahasiswa yang layak mendapatkan bantuan berupa beasiswa, lantas apa?
Apakah karena mereka tidak punya kekuasaan sehingga suara mereka tidak di dengar? ........................
Apakah karena mereka tidak paham sehingga mereka tidak akan menuntut haknya?....................................
Apakah karena mereka orang bodoh sehingga tidak perlu diperhatikan pendidikannya?......................................
Apakah karena mereka orang miskin sehingga harus dipandang sebelah mata?.......................................
Terus kapan anak-anak dari keluarga miskin mendapatkan kesempatan untk dapat menggapai cita-citanya?......................................
Terus kapan orang bodoh punya kesempatan belajar untuk menjadi pintar?........................................................................
Terus sampai kapan kita akan tertawa disaat orang disamping kita menangis?.............................................
“Ya tuhan..................
Bukankah beasiswa untuk membantu mereka yang kurang mampu?
lantas kapan bantuan belajar mahasiswa bisa tepat sasaran?
Terus sampai kapan ini semua akan kita biarkan ?
Haruskah aku bertanya kepada rumput yang bergoyang?
Hanya engkaulah yang tahu tuhan atas segala apa yang tidak kami ketahui” ratapku dalam kesunyian.
Aku …………!
Aku bukanlah kau
Karena kau bukanlah aku
Dan kau tidak akan pernah menjadi aku
Aku adalah aku
Aku bukan lah dia
Karena dia bukanlah aku
Dan dia tidak akan pernah menjadi aku
Aku adalah aku
Aku bukanlah mereka
Karena mereka bukanlah aku
Dan mereka tidak akan pernah menjadi aku
Karena aku tetaplah aku
Dan hanya aku yang tau siapa aku
Maka jangan pernah samakan aku dengan siapapun itu
Karena aku punya rasa……
Karena aku punya cita-cita…..
Karena aku punya hati…….
Anehnya lagi aku punya cinta….
Maka dari itu
Jangan kau lukai aku
Jangan kau sakiti aku
Apalagi kau khianati aku
Karena bagiku sulit untuk melupakan semua itu
Jangan Siksa Aku Dengan Cintamu
Kehidupan memang terus berlalu
Beribu duka telah kurasakan
Beribu cinta telah kulewatkan
Hanya dengan hidup bersamamu
Tapi sekarang kandas
Luapan cinta yang biasanya bermuara canda
Luapan kasih yang terkadang menjadi semangat
Kini hanya tinggallah detak nafas yang terengah hanya karena kepalsuan
Kepalsuan cinta yang terbungkus harta
Yang hanya bisa membuat tubuh ini lemah dan tak berdaya
Diriku terlalu lemah dihadapanmu
Diriku terlalu bodoh dengan cintamu
Diriku takmampu dengan tipu daya mu
Cintamu, kasihmu, sayangmu, hanya ibarat racun yang terbungkus madu
Yang dapat membunuh siapapun yang meminumnya