Sabtu, 22 Januari 2011

Kaum intelektual kita......


Berfikir ilmiah adalah berfikir sesuai dengan kaidah keilmuan, begitu jawaban dari salah satu dosen saya waktu saya tanyakan tentang berfikir ilmiah melalui pesan singkat. Namun disini saya akan mencoba menjelaskan serta menguraikan lebih luas lagi sejauh pemahaman yang saya pahami terhadap berfikir ilmiah tersebut. Menurut Poerwadarminta dalam kamus umum bahasa indonesia(1976) pikir adalah: akal budi, pendapat. Sedangkan berfikir adalah : menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan dan sebagainya tentang sesuatu hal. Sedangkan ilmiah adalah bersifat ilmu; secara ilmu pengetahuan. Sedangkan Berpikir menurut Salam (1997:139) adalah suatu aktivitas untuk menemukan pengetahuan yang benar atau kebenaran. Berpikir dapat juga diartikan sebagai proses yang dilakukan untuk menentukan langkah yang akan ditempuh. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah.
Jadi dari pengertian diatas berfikir ilmiah dapat di definisikan sebagai berikut : menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan, mengembangkan dan sebagainya sesuai dengan kaidah keilmuan atau ilmu pengetahuan (berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan atau menggunakan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran). 
Dalam setiap perdebatan baik dalam sebuah diskusi formal atau non formal kadang kita sering mendengarkan kata-kata “apa buktinya? Itu mah g’ masuk akal?” nah untuk menjawab atau meyakinkan mereka kita memang harus memberikan fakta-fakta dan rasionalisasi (bisa diterima oleh akal) tentang objek perdebatan kita itu. Contoh pada saat kita berbicara tentang orang yang telah mati dan dikubur tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini. Nah fakta pendukung dari argumen dari atas adalah memang faktanya atau kenyataannya dari dulu sampai sekarang orang mati memang tidak satupun yang kembali atau hidup lagi sehingga kebenaran ini memang benar adanya karena didukung oleh bukti tersebut. Rasionalisasinya adalah mau tidak mau akal secara langsung maupun tidak, akan dengan sendirinya menerima karena memang itu adanya dan yang bisa dilihat oleh mata dan yang kita saksikan dari sehari-hari pada setiap saudara kita atau tetangga kita yang mati tak pernah kembali lagi ke dunia ini.
Pada waktu studi di perguruan tinggi kita selalu diajak untuk berfikir ilmiah, yaitu berfikir logis-empiris. Salah satu contoh pada saat kita mau melakukan penelitian untuk tugas akhir atau skripsi, sebelumnya kita harus telah memahami metodologi riset yaitu metodologi ilmiah untuk melaksanakan penelitian tersebut. Dalam metodologi ilmiah ada rumus baku atau yang biasa disebut tulang punggung teori penelitian ilmiah yaitu logico-hypotitico-verifikatif, artinya sesuatu yang benar haruslah didukung oleh fakta-fakta dan bisa diterima oleh akal sehat manusia. Metode ilmiah ini merupakan sebuah grand theory yang darinya akan diturunkan metode-metode penelitian. Dan dengan penelitian ilmiahlah kita akan mendapatkan keilmuan dengan kebenaran ilmiah pula.
Sehingga mungkin tidak berlebihan jika cara berfikir ilmiah kita gunakan untuk membedakan kaum terpelajar atau kaum terdidik dengan kaum-kaum lainnya. Jadi bisa saja kita mengatakan mahasiswa tidak ada bedanya dengan penarik becak dijalanan apabila mahasiswa tersebut tidak bisa berfikir secara ilmiah tersebut sesuai dengan keilmuan yang didapatkan di bangku pendidikan. Namun memang sangat disayangkan untuk saat ini kaum terpelajar kita sering tidak menyadari tentang itu semua sehingga dalam menyelesaikan masalahpun mahasiswa tidak ada bedanya dengan mereka yang tidak berpendidikan. Salah satu contoh seringnya ditemukan demo-demo bayaran. Demo yang mengganggu keamanan dan kenyaman masayarakat dengan menutup jalan. Begitu juga demo anarkis yang tentunya juga rakyat yang dirugikan karena bagaimanapun semua bangunan dan kendaraan pemerintah dibangun juga dibeli dengan uang dari rakyat yaitu hasil pajak masyarakat.
Sehingga tidak salah apabila seorang mahasiswa dengan Three fungsi mahasiswanya memang dituntut untuk benar-benar bisa menjadi sahabat masyarakat semua. Tidak hanya masyarakat kecil pinggiran, atau masyarakat kota saja, bahkan pemerintahpun harus menjadi sahabat dari seorang mahasiswa. Sahabat disini harus diartikan dengan berat sama dipikul ringan sama di jinjing yang merupakan penerapan dari fungsi mahasiswa sebagai agen perubahan, control sosial, dan man of analisis. Sehingga masalah bangsa ini tidak hanya masalah pemerintah saja sehingga mahasiswa lantas seenaknya  selalu menyalahkan dan menuntut pemerintah semata. Namun begitu juga sebaliknya bukan hanya masalah masyarakat saja sehingga pemerintah lantas lepas tangan dan beruforia jalan-jalan menghabiskan anggaran tanpa memikirkan keadaan rakyat yang sedang dirundung seribu masalah.
Dengan menjadi sahabat masyarakat, mahasiswa diharapkan ikut serta mencarikan solusi terbaik untuk segala permasalahan bangsa yang saat ini sedang dihadapi. Bersama-sama polisi mahasiswa harus mampu bergandengan tangan memecahkan permasalahan keamanan, degradasi moral serta membantu menemukan teknologi-teknologi canggih yang dapat digunakan untuk mempermudah pelayanan atau lainya. Tentunya dengan kompetensi masing-masing. Salah satu contoh mahasiswa ilmu komunikasi harus mampu menemukan metode komunikasi efektif antara polisi dengan pengguna lalu lintas agar himbaun aparat keamanan terhadap pengendara lalu lintas tidak hanya sebatas diikuti karena rasa takut terhadap tilang saja, namun dengan harapan bisa dimengerti serta di ikuti atas dasar kesadaran akan keselamatan dalam berlalu lintas. Saya rasa ini lebih penting dari hanya sekedar turun kejalan dan saling menyalahkan bahkan lebih ironis lagi aksi saling lempar dan saling pukul antara mahasiswa dan kepolisian menjadi jalan akhir dalam sebuah perselisihan.
Begitu juga dengan permasalah-permasalahan lainnya yang lebih kompleks seperti krisis sumber daya manusia sehingga pengolahan kekayaan bumi mayoritas masih di kuasai asing dengan presentasi yang jauh dari masuk akal. Salah satu contoh PT Freeport yang apabila kita coba untuk mengetahui hasil yang diperoleh kita sebagai pemilik dengan perolehan asing sebagai pengelola bisa membuat hati kita menangis. Jadi tidak heran jika aksi yang dilakukan sampai berlebihan sehingga banyak memakan korban. Namun sekali lagi sangat disayangkan karena kita telah salah kaprah. Yang kita lakukan hanyalah saling menyalahkan namun tidak berusaha mencoba mencarikan solusi atas keterbatasan sumber daya manusia dan teknologi yang belum kita miliki. Maka dari itu mahasiswa dengan fungsi mahasiswanya sebagai agen perubahan yang tentunya perubahan menjadi lebih baik harus sadar dan segera berbenah untuk benar-benar menjadi sahabat dari semua masyarakat serta pemerintah untuk menuju indonesia yang lebih baik, lebih bermartabat dan tentunya lebih makmur dengan segala kelebihan dan kekayaan yang dimiliki oleh negri kita tercinta ini. Sehingga dengan seperti ini mahasiswa bisa dikatakan berfikir ilmiah. Dan layak dikatakan sebagai kaum intelektual.

Senin, 17 Januari 2011

Berbisnis dengan tuhan......


Sedikit memang agak nyeleneh, apabila kita hanya memaknai judul diatas secara sepintas namun apabila dikaji lebih jauh sebenarnya disitulah letak esensi dari setiap bisnis atau usaha yang kita lakukan. Bagaimana tidak setiap kita telah mengakui kalaulah tuhan maha segalanya, yaitu maha kaya, maha kuat, maha adil, maha bisa serta maha-maha yang lainnya. Tuhan maha sempurna dan tuhan bisa segala-galanya dan tuhan jualah yang memiliki segala-galanya yang tidak kita miliki bahkan diri kita ini adalah milik tuhan dan kapanpun tuhan mau mengambil (mencabut nyawa) kita sangat lah bisa hanya dengan satu kata kun jadilah maka apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi. 
Lantas apa hubungannya dengan bisnis kita atau usaha-usaha yang kita laksanakan? Nah justru disinilah sesuatu yang menarik akan kita bahas. Berbisnis atau menjalankan usaha tentunya ada tujuan yang ingin kita capai yaitu keuntungan atau laba yang sebesar-besarnya sehingga kita bisa hidup sejahtera bahkan mewah atau berpoya-poya entahlah yang jelas dalam berbisnis tidak ada yang ingin bisnisnya tidak untung bahkan rugi. Namun ternyata dilapangan bisnis kadang jauh dari apa yang kita harapkan. Untuk mendapatkan laba yang besar ternyata tak semudah hanya menghirup segar aroma kopi coklat, di balik semua itu ternyata harus ada upaya atau kerja keras yang kita lakukan lebih ironis lagi kadang kita sudah sangat bekerja keras tapi tetap saja usaha atau bisnis kita tidak lancar alias jalan ditempat atau bahkan mengalami kemunduran dan akhirnya gatal alias gagal total.
Nah jika memang ini yang terjadi butuh adanya evaluasi yang mendalam terhadap usaha atau bisnis tersebut. Mulai dari kualitas barang yang kita jual atau perdagangkan sampai pada pelayanan yang kita berikan terhadap konsumen. Dua ini adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan karena dua factor tersebutlah yang sangat berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan seperti apa yang telah dibuktikan oleh mbah mo dengan usaha mbak minya sehingga menjadi usaha kuliner yang luar biasa diminati oleh masyarakat jogja pada khususnya juga masyarakat Indonesia pada umumnya.
Walaupun tidak berada di tengah-tengah keramaian bahkan bisa dikatakan sangat jauh dari pusat perkotaan dan sangat sepi, mbak mi mbah mo sukses mencuri hati konsumen. Apa saja rahasianya? Seperti yang telah saya paparkan di depan tadi ternyata mbah mo sangat mengutamakan yang namanya kualitas dari produknya yaitu mbak mi tersebut, ntah bagaimana mbah mo membuat dan menjaga kualitas mbak minya hanya mbah mo dan tuhan lah yang tahu.
Selain menjaga kualitas ternyata mbah mo juga memberikan pelayanan yang sangat luar biasa seperti yang beliau paparkan pada saat menjadi mentor Enterprenuer University di Aula SMK 3 Pamekasan Minggu, 16 January 2011. Salah satunya beliau tidak pernah lupa untuk menyapa setiap pelanggannya sehinnga terjadi hubungan yang baik antara penjual dan pembeli sehingga tak heran walaupun hampir menunggu sampai 2 jam hanya untuk menikmati sepiring mbak minya mbah mo tak ada yang marah, bahkan pelanggan merasa senang itu terbukti pada saat setiap pelanggan selesai makan dan membayar mbak minya yang dia nikmati beliau menyalami mbah mo seraya mengucapkan terima kasih seakan tercipta suasana kekerabatan yang sudah akrab lama.
Apakah cukup hanya disitu usaha mbah mo untuk menjadikan usaha mbak minya di minati oleh banyak pelanggan. Ternyata tidak, karena tempat jualan yang jauh dari kota serta pusat keramain, tepatnya disebuah desa di bantul Jogjakarta tersebut tentunya tidak cukup hanya dengan kualitas dan pelayanan yang prima. Namun lebih dari itu butuh yang namanya pengenalan atau promosi kepada calon konsumen. Karena sebaik apapun kualitas serta pelayanan yang diberikan oleh mbah mo tapi jika tidak ada yang mengetahui maka bisa di asumsikan juga akan minim pembelinya. Nah disinilah letak kecerdikan seorang mbah mo dalam memasarkan mbak minya. Segala upaya pun dilakukan termasuk sesuatu yang kesannya nyelenehpun mbah mo lakukan walaupun sebenarnya juga sangat bisa diterima oleh akal karena memang sangat rasional dan terbukti ampuh.
Lalu apa istimewanya dibandingkan dengan yang lain? Bukan kah ada terkadang sudah memenuhi tiga unsur yang telah dilakukan oleh mbah mo tadi dalam membangun usahanya tapi tetap saja tidak memberikan keuntungan yang memuaskan bahkan tak ayal kadang juga bangkrut karena mengeluarkan cost yang terlalu besar untuk menjamim mutu dan kualitas serta biaya iklan yang tidak sedikit untuk strategi pemasaran. Ada hal yang lebih penting tutur pria sederhana yang tetap bersahaja dan penuh romantisme itu. Menurut beliau dari segala usaha haruslah ada doa kepada yang maha kuasa dan maha bisa tadi. Karena walaupun berkesan sepele ini sangat berimbas besar terhadap hasil dari usaha itu sendiri. Namun ironisnya banyak dari pengusaha kita tidak memahami itu semua sehingga usaha atau bisnis kita berkesan hanya sebagai kegiatan ritual biasa yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tuhan kita. Lebih jauh dari itu bahkan kita kadang lebih percaya terhadap dukun untuk bagaimana melariskan usaha kita dari pada untuk meminta tolong atau meminta bantuan kepada tuhan kita sendiri yang sudah jela-jelas kita yakini bahwa tuhan kita maha segalanya termasuk yang menciptakan kita yang tentunya juga punya wewenang dan kuasa penuh terhadap rizki kita.
Lantas harus seperti apa seharusnya kita menjalankan usaha kita agar usaha kita bisa berjalan lancar dan memberikan keuntungan yang luar biasa serta memberikan kepuasan batin tentunya yang lebih penting. Disini saya akan mencoba memberikan tips walaupun sebenarnya ini sudah bukan rahasia lagi bahkan sudah sering di dengung-dengungkan bahkan didakwahkan oleh banyak ulama’ serta da’i kondang baik secara langsung maupun melalui media. Yaitu dengan senantiasa mendekatkan diri kepada tuhan kita selaku pemegang hak dan wewenang penuh terhadap rizki kita. Tidak jauh berbeda dengan waktu kita mengikuti lelang kontrak sebuah proyek besar. Apabila kita sudah sangat dekat dengan pemegang hak dan wewenang atas kuasa untuk memberikan kontrak tersebut kepada kita tentu peluangnya jauh lebih besar dibandingkan bagi mereka yang jangankan kenal pernah melihat wajahnya dari jauh aja tidak. Sehingga tak ayal jika fenomena tidak menyenangkan kadang terjadi seperti saling sogok untuk sebisa mungkin mendapatkan kontrak dari sebuah proyek tersebut. Dengan tuhan tentunya tidak jauh berbeda apabila kita meyakini bahwa tuhan kita punya hak dan wewanang penuh terhadap rizki kita kenapa kita tidak berusaha untuk mendekatkan diri kepada-NYA. Tentu dengan banyak cara bisa dilakukan salah satu contoh dengan senantiasa menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Jadi kalau lah tuhan menganjurkan kita untuk solat tepat waktu sebisa mungkinlah kita solat tepat waktu sehingga pada saat kita meminta kepada tuhan kita mungkin tuhan akan langsung mengabulkannya. Tidak sebaliknya kalau lah kita solatnya sering telat atau bahkan tidak solat bukan tidak mungkin jika tuhan menunda permohonan atau doa kita dengan alasan “disuruh solat saja masih ditunda-tunda bahkan kadang tidak solat, ya sudah rizkimu akan saya tunda bahkan akan saya tahan sampai waktu yang tidak ditentukan”. Itu sangat mungkin dan tuhan punya hak serta kuasa atas itu semua.
Dan masih banyak lagi yang juga bisa kita lakukan bagaimana usaha kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada tuhan kita. Kalau lah kita biasa menyogok pimpinan untuk senantiasa menaikkan pangkat kita atau segala macam yang lainnya. Kenapa kita tidak juga menyogok tuhan walau tentu ada cara sendiri bagai mana kita menyogok tuhan untuk memudahkan itu semua padahal kalaulah kita cermati pimpinan atau atasan kita itu sebenarnya hanyalah kepanjangan tangan untuk menjadi pelaksana atau penyebab dari kehendak tuhan. Jadi kalau kita naik pangkat oleh pimpinan sebenarnya itu adalah kehendak tuhan agar kita naik pangkat yang pelaksanannya adalah pimpinan itu tadi. Dan seberapa besarpun kita menyogok pimpinan kita untuk menaikkan pangkat kita kalaulah tuhan kita tidak berkehendak atau tidak mengizinkan atas semua itu maka sekali-kali tidak akan pernah terjadi. Karena percaya atau tidak, mau diyakini atau tidak seyogianya pimpinan kita tak jauh beda dengan kita yang statusnya juga ciptaan tuhan kita yang otomatis tuhan masih sangat berkuasa atas diri pimpinan kita itu sendiri.
Jadi kesimpulannya tuhan kita adalah bos dari segala bos. Tuhan kita adalah pimpinan dari segala pimpinan. Tuhan kita juga penguasa atas segala hak dan wewenang yang ada di dunia. sehingga dalam usaha atau bisnis apa saja yang kita jalankan hendaknya kita jalankan dengan petunjuk tuhan atau yang saya istilahkan dengan “berbisnis dengan tuhan!” sehingga dalam segala hal kita dibantu dan dapat diberi kemudahan oleh tuhan kita untuk mencapai tujuan atau sukses yang sesungguhnya yaitu sukses dunia dan akhirat.