Oleh : hasin pasti bias
(tulisan ini berawal dari banyaknya pertanyaan akan keingin tahuan teman-temanq tentang cerita kisah hidupq sehingga aq ada di pulau madura, yang pada saat itu hanya bisa aq jawab dengan jawaban “ ceritanya panjang sob..!” dikesempatan kali inilah aq tuangkan dalam sebuah tulisan sehingga teman-teman bisa membacanya tanpa harus aq jelaskan, tentunya dengan harapan semoga bias memberikan hikmah yang positif dalam berbagi pengalaman. Selamat membaca………)
Pesan ibuku disaat kucium tangannya pada waktu q harus meninggalkannya pergi ke tempat perantaunq. “ hati-hati diperantauan nak, jaga diri baik-baik. disana dirimu tidak memiliki siapa-siapa. jangan disamakan dengan daerah sendiri, dirimu harus bisa menyesuaikan diri, dimana bumi engkau pijak disitulah langit yg harus kamu junjung dengan artian dirimu harus memahami budaya serta adat daerah yang engkau tempati. Benar adanya dan saya sangatlah memahami apa sebenarnya yang ingin ibu sampaikan kepadaq lewat pesannya itu bahwasanya beliau masih sayang padaq.
Beda dengan saat kudengarkan wejangan ayahku di saat beliau telfon aq. Beliau mengatakan “aq percaya sama dirimu nak, dirimu sudah cukup dewasa tentunya sudah sangat bisa membedakan antara yang baik dan yang tidak baik untuk dirimu lakukan. Ayah sudah tidak mungkin mendektemu lagi mengingat dirimu juga sudah seharusnya mencari jati dirimu sendiri. Lakukan apa yang menurutmu baik dan jangan lakukan apa yang menurutmu tidak baik. insaAllah doa ayah selalu bersamamu nak. Sepintas memang tidak ada yang istimewa dari pesan diatas namun makna dari sebuah kata percaya memiliki pemaknaan yang sangat luar biasa bagiq, dimana sangatlah mahal untuk mendapatkan sebuah kepercayaan dari seorang ayah untuk anaknya yang masih belajar menata keindahan dalam sebuah kehidupan yang selalu disetarakan dengan keseimbangan antara nafsu dan akal. “terima kasih ayah……” jawabq singkat namun penuh penghayatan seraya meneteskan air mata sukurq pada-NYA. Lalu kumatikan telfonq dengan mengucapkan salam semoga ayah selalu dalam lindungan-NYA selalu.
Ayah memang sengaja memberi pesan itu lewat handpone pamanq karena diriq paham, ayah tidak ingin memperlihatkan air matanya kepadaq. Beliau ingin aq tegar dalam menjalani hidup yang penuh tanda tanya ini. Setegar batu karang di tepi pantai yang selalu kokoh walaupun badai gelombang tiada henti menghempasnya. Itulah ayahq, patriot kebanggaanq yang mengajariku kemandirian dan kejujuran serta untuk selalu berbuat baik.
Sirine kapal berbunyi bertanda kapal siap diberangkatkan, ayah beserta adik dan keluargaq melambaikan tangan sebagai isarat ucapan selamat jalan semoga selamat sampai tujuan. Spontan diriq membalas dengan lambaian tangan pula, seakan- akan diriq menjawab ucapannya dengan doa semoga ayah beserta keluarga tetap sehat dan dapat bertemu kembali dengan oleh-oleh hasil dari kerja keras untuk menggapai cita-citaq.
Dengan cepat kapal berlayar meninggalkan dermaga tanah kelahiranq itu. Sehingga sudah tak dapat lagi kulihat sosok seorang ayahq, bahkan dermaga yang tadinya sangat besar itupun sekarang sudah kelihatan sangat kecil dan perlahan sudah tak tampak lagi. Diriku enggan beranjak masuk kedalam ruang kapal, seakan diriku masih belum rela melepas dan meninggalkan tempat dimana aq dilahirkan dan dibesarkan itu. Walaupun sebenarnya diriku harus istirahat karena perjanalan masih terlalu jauh untuk kutempuh, butuh sekitar tiga kali 24 jam untuk diriq sampai pada tempat tujuanq.
***
Waktu berjalan begitu cepat, rintangan, ujian, cobaan silih berganti menerpa kehidupanq di daerah perantauan itu. Tiga tahun sudah lamanya tak bersua dengan keluargaq, rasa kangen, rindu akan kampung halaman, rindu akan masakan ibu, rindu akan teman sepermainanq, yang sebelumnya tak sempat dirasakan karena bergelut dengan buku, bolpoint serta sapu lidik yang setia menemaniq disetiap pagi dan soreq. Kini kembali semua hadir dalam anganq yang tak lagi dapat dibendung waluapun oleh kotornya halaman sekolahq yang biasa setiap pagi dan sore harus kusapu sebagai tugas harianq untuk dapat menikmati pendidikan gratis dari sekolahq.
Gemetar tanganq serta merinding tubuhku dan mengalir deras keringat dinginq setelah kulihat apa yang ada dalam genggaman tanganq. Sebuah kenyataan yang tak pernah terlintas dalam mimpiq untuk dapat memilikinya. Ijazah Sekolah Menengah Atas Swasta dengan sebuah namaku yang ditulis dengan tinta berwarna emas membuatq bertanya, benarkah ini kenyataan dalam hidupq?
Dengan perasaan yang sangat luar biasa akhirnya diriq di izinkan untuk pulang menemui keluargaku ditanah kelahiranq. Dengan sangat senang dan bangga ku beranjak pergi meninggalkan tempat dimana diriq meraih keajaiban dalam hidupq.
***
Sampai dikampung halamanq, diriq disambut bahagia oleh keluargaq, namun dibalik kebahagiaan itu ada sesuatu yang berbeda dalam benakq. Kurang lebih tiga tahun diperantauan seakan banyak perubahan yang terjadi pada keluargaq. Adikq yang dulu masih berumur dua tahun kini sudah beranjak besar dan jelas sebentar lagi dia harus sudah didaftarkan di sekolah dasar untuk mengenyam pendidikan agar masa depannya dapat diharapkan. Rumahku yang memang terbuat dari kayu hutan itu sangat berbeda dengan waktu saat aq tinggalkan dulu, kini sudah sangat banyak butuh perbaikan, bahkan jika hujan turun tak sedikit tempat yang basah karena atap rumahku yg terbuat dari daun sagu itu sudah banyak yang rusak dan bocor. Dan bahkan sudah ada beberapa bagian dari beberapa sudut yang sudah roboh dan sangat membahayakan.
Lebih ironisnya lagi yang membuat hati ini terenyuh dan tak kuat menahan kembali tetesan air mata disaat kutatap wajah tua ayah dan ibuku tercinta, dimana rambut hitamnya sudah mulai sebagian memutih, wajah keriput dipipinya sudah semakin jelas, serta otot-ototnya yang semakin mengering dimakan usia. Sebenarnya usia ayah dan ibu tidak begitu jauh dari orang dewasa pada umumnya namun diriq paham semua itu disebabkan oleh beban tanggung jawab dan kerja kerasnya yang membuat ayah begitu cepat termakan oleh usia.
Spontan diriku ingin berteriak dan merobek ijazah SMAq yang semula ingin saya jadikan oleh-oleh untuk saya pamerkan atas dasar kesuksesanku dengan sebuah kerja kerasq menjadi sirna. Perlahan kukeluarkan sebuah kertas tebal yang kubungkus rapi dengan map warna hijau dari sekolahku dan kutatap dengan penuh perasaan serta penghayatan serta kutanyakan apakah ijazah ini bisa saya jadikan biaya untuk adikq masuk sekolah nanti? Apakah ijazah yang saya banggakan ini dapat memperbaiki rumahku yang hampir roboh itu? Apakah ijazah yang ingin saya pamerkan dari sebuah hasil keringat kerja kerasku itu bisa membuat usia ayahq kembali seperti dulu? Tidak......... sekali lagi tidak, sedikitpun tidak mungkin bisa! Naluriq menjawab dengan tenangnya.
Air mata kembali mengalir, bukan karena diriq terlalu cengeng, namun keadaanq memang membuatq harus meneteskan air mata kesedihan ini. Semula diriq bermaksud kembali ketanah kelahiranq dan tidak akan kembali lagi ke perantaunq, meninggalkan kenangan kelam hidup tanpa siapa-siapa, tanpa kasih sayang seorang ibu, tanpa wejangan seorang ayah, tanpa canda tawa adik-adikq. Namun ternyata tak semudah yang aq bayangkan. Ijazah SMA yang saya bangga-banggakan ternyata tak bisa berbuat apa-apa untuk masalah kehidupanq. Kini diriq sadar kalaulah perjuanganq belum selesai.
Pada suatu malam setelah selesai solat magrib berjemaah bersama keluarga, aq bicara di depan ayah, ibu juga adik-adikq. ” ayah, ibu.......... setelah saya lulus dari SMA ternyata saya masih belum bisa apa-apa. Belum bisa meringankan beban ayah dan ibu, juga belum bisa membantu biaya pendidikan adik-adikq. Jika ayah ibu tidak keberatan, sudilah kiranya untuk mengizinkan diriq untuk melanjutkan pendidikanq ke jenjang yang lebih tinggi, melanjutkan perjuangan hidup ini, aq harus kembali keperantauanq ibu.....,”. Lama ayah dan ibu terdiam, setelah menarik nafas panjang ayah mencoba menanggapi keinginanq tadi seraya berkata, ”ayah dan ibu mengerti nak apa yang menjadi kegelisahanmu itu, jika memang itu maumu, ayah dan ibu hany bisa berdoa semoga apa yg menjadi cita-cita luhurmu itu bisa tercapai. Ayah tidak bisa menyuruhmu juga tidak bisa menghalangimu, karena kalau ayah menyuruhmu jelas ayah harus membiayaimu sedangkan ayah tak punya apa-apa lagi untuk ayah jadikan uang, hutangnya ayah yang kemarin saja belum bisa ayah lunasi. Dan begitu juga sebaliknya ayah tidak bisa menghalangimu untuk meneruskan pendidikanmu kejenjang yang lebih tinggi karena itu merupakan kemauan dan tekad yang baik apalagi kita memang diwajibkan untuk menuntut ilmu. Jadi kesimpulannya jika memang dirimu ingin melanjutkan pendidikanmu, ya sudah barang tentu dirimu harus mencari biaya sendiri, ayah tidak bisa membiayaimu nak.........maafin ayah.” begitulah tanggapan ayah atas permintaan izinq untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang lebih tinggi seraya menundukkan wajahnya seakan merasa berdosa akan ketidak mampuannya untuk membiayai pendidikanq. Sedangkan ibu hanya tertunduk dan diam seribu kata. Entahlah apa yang ada dalam fikirannya, saya tak mampu membacanya. Tapi yang jelas aura kesedihan juga tersirat dari wajah ibuku.
Jawaban yang singkat padat dan jelas kalaulah keluargaq masih sangat peduli akan pendidikan anak-anaknya namun karena keadaanlah sehingga semua harus seperti ini. Jawaban ini tidak jauh berbeda dengan jawaban waktu aq minta izin untuk melanjutkan dari sekolah menengah pertama ke sekolah menengah atas. Dimana pada saat itu aq sempat mengangur selama satu tahun, karena bantu ayah mencari uang untuk biaya kakak saya yang sudah terlanjur masuk di sekolah menengah atas. Karena apabila saya memaksakan untuk juga masuk SMA, khawatir dua-duanya akan terputus ditengah jalan karena masalah biaya. Maka dari itu aq memutuskan untuk membantu ayah saja mencari uang untuk biaya kakak saya.
Namun setelah satu tahun diriq bergelut dengan pekerjaan. Diriq sangat merindukan akan suasana pendidikan, Haus akan keilmuan kembali aq rasakan, setiap pagi aq melihat sahabat-sahabatq yang satu kelas dulu waktu di SMP kini telah mengenakan seragam putih abu-abu, yang menjadi impianq dulu. Sehingga aq memutuskan untuk pergi jauh merantau untuk sekedar merasakan seragam putih abu-abu tersebut. Dan sekarang itu sudah menjadi masa lalu. Tinggallah mimpiq sekarang untuk dapat merasakan menjadi seorang mahasiswa. Seorang yang katanya menjadi kunci perubahan, sebuah kontrol sosial, dan seorang penganalisa keadaan yang selalu mengabdi kepada bangsa dan tanah air tercinta. Itulah katanya mahasiswa yang kutau dari cerita kakekq waktu aq dibawa kesawah bersamanya.
Dan hanya berselang beberapa hari dirumah, akhirnya aq putuskan untuk kembali ke perantauan. Sebanarnya belumlah terobati rasa rindu dan kangen ini terhadap keluargaq apalagi adikq yang masih mungil itu yang masih sangat mengharapkanku menemaninya bermain. Namun masa depanq memaksaq untuk mengambil keputusan ini. Kembali hidup sendiri meninggalkan ayah, ibu, serta adik-adikq. Kembali meninggalkan kulupan sayur hijau dicampur sambel kacang masakan khas ibu yang sangat aq suka dan selalu membuatq rindu untuk pulang.
Bersambung................!
(tulisan ini berawal dari banyaknya pertanyaan akan keingin tahuan teman-temanq tentang cerita kisah hidupq sehingga aq ada di pulau madura, yang pada saat itu hanya bisa aq jawab dengan jawaban “ ceritanya panjang sob..!” dikesempatan kali inilah aq tuangkan dalam sebuah tulisan sehingga teman-teman bisa membacanya tanpa harus aq jelaskan, tentunya dengan harapan semoga bias memberikan hikmah yang positif dalam berbagi pengalaman. Selamat membaca………)
Pesan ibuku disaat kucium tangannya pada waktu q harus meninggalkannya pergi ke tempat perantaunq. “ hati-hati diperantauan nak, jaga diri baik-baik. disana dirimu tidak memiliki siapa-siapa. jangan disamakan dengan daerah sendiri, dirimu harus bisa menyesuaikan diri, dimana bumi engkau pijak disitulah langit yg harus kamu junjung dengan artian dirimu harus memahami budaya serta adat daerah yang engkau tempati. Benar adanya dan saya sangatlah memahami apa sebenarnya yang ingin ibu sampaikan kepadaq lewat pesannya itu bahwasanya beliau masih sayang padaq.
Beda dengan saat kudengarkan wejangan ayahku di saat beliau telfon aq. Beliau mengatakan “aq percaya sama dirimu nak, dirimu sudah cukup dewasa tentunya sudah sangat bisa membedakan antara yang baik dan yang tidak baik untuk dirimu lakukan. Ayah sudah tidak mungkin mendektemu lagi mengingat dirimu juga sudah seharusnya mencari jati dirimu sendiri. Lakukan apa yang menurutmu baik dan jangan lakukan apa yang menurutmu tidak baik. insaAllah doa ayah selalu bersamamu nak. Sepintas memang tidak ada yang istimewa dari pesan diatas namun makna dari sebuah kata percaya memiliki pemaknaan yang sangat luar biasa bagiq, dimana sangatlah mahal untuk mendapatkan sebuah kepercayaan dari seorang ayah untuk anaknya yang masih belajar menata keindahan dalam sebuah kehidupan yang selalu disetarakan dengan keseimbangan antara nafsu dan akal. “terima kasih ayah……” jawabq singkat namun penuh penghayatan seraya meneteskan air mata sukurq pada-NYA. Lalu kumatikan telfonq dengan mengucapkan salam semoga ayah selalu dalam lindungan-NYA selalu.
Ayah memang sengaja memberi pesan itu lewat handpone pamanq karena diriq paham, ayah tidak ingin memperlihatkan air matanya kepadaq. Beliau ingin aq tegar dalam menjalani hidup yang penuh tanda tanya ini. Setegar batu karang di tepi pantai yang selalu kokoh walaupun badai gelombang tiada henti menghempasnya. Itulah ayahq, patriot kebanggaanq yang mengajariku kemandirian dan kejujuran serta untuk selalu berbuat baik.
Sirine kapal berbunyi bertanda kapal siap diberangkatkan, ayah beserta adik dan keluargaq melambaikan tangan sebagai isarat ucapan selamat jalan semoga selamat sampai tujuan. Spontan diriq membalas dengan lambaian tangan pula, seakan- akan diriq menjawab ucapannya dengan doa semoga ayah beserta keluarga tetap sehat dan dapat bertemu kembali dengan oleh-oleh hasil dari kerja keras untuk menggapai cita-citaq.
Dengan cepat kapal berlayar meninggalkan dermaga tanah kelahiranq itu. Sehingga sudah tak dapat lagi kulihat sosok seorang ayahq, bahkan dermaga yang tadinya sangat besar itupun sekarang sudah kelihatan sangat kecil dan perlahan sudah tak tampak lagi. Diriku enggan beranjak masuk kedalam ruang kapal, seakan diriku masih belum rela melepas dan meninggalkan tempat dimana aq dilahirkan dan dibesarkan itu. Walaupun sebenarnya diriku harus istirahat karena perjanalan masih terlalu jauh untuk kutempuh, butuh sekitar tiga kali 24 jam untuk diriq sampai pada tempat tujuanq.
***
Waktu berjalan begitu cepat, rintangan, ujian, cobaan silih berganti menerpa kehidupanq di daerah perantauan itu. Tiga tahun sudah lamanya tak bersua dengan keluargaq, rasa kangen, rindu akan kampung halaman, rindu akan masakan ibu, rindu akan teman sepermainanq, yang sebelumnya tak sempat dirasakan karena bergelut dengan buku, bolpoint serta sapu lidik yang setia menemaniq disetiap pagi dan soreq. Kini kembali semua hadir dalam anganq yang tak lagi dapat dibendung waluapun oleh kotornya halaman sekolahq yang biasa setiap pagi dan sore harus kusapu sebagai tugas harianq untuk dapat menikmati pendidikan gratis dari sekolahq.
Gemetar tanganq serta merinding tubuhku dan mengalir deras keringat dinginq setelah kulihat apa yang ada dalam genggaman tanganq. Sebuah kenyataan yang tak pernah terlintas dalam mimpiq untuk dapat memilikinya. Ijazah Sekolah Menengah Atas Swasta dengan sebuah namaku yang ditulis dengan tinta berwarna emas membuatq bertanya, benarkah ini kenyataan dalam hidupq?
Dengan perasaan yang sangat luar biasa akhirnya diriq di izinkan untuk pulang menemui keluargaku ditanah kelahiranq. Dengan sangat senang dan bangga ku beranjak pergi meninggalkan tempat dimana diriq meraih keajaiban dalam hidupq.
***
Sampai dikampung halamanq, diriq disambut bahagia oleh keluargaq, namun dibalik kebahagiaan itu ada sesuatu yang berbeda dalam benakq. Kurang lebih tiga tahun diperantauan seakan banyak perubahan yang terjadi pada keluargaq. Adikq yang dulu masih berumur dua tahun kini sudah beranjak besar dan jelas sebentar lagi dia harus sudah didaftarkan di sekolah dasar untuk mengenyam pendidikan agar masa depannya dapat diharapkan. Rumahku yang memang terbuat dari kayu hutan itu sangat berbeda dengan waktu saat aq tinggalkan dulu, kini sudah sangat banyak butuh perbaikan, bahkan jika hujan turun tak sedikit tempat yang basah karena atap rumahku yg terbuat dari daun sagu itu sudah banyak yang rusak dan bocor. Dan bahkan sudah ada beberapa bagian dari beberapa sudut yang sudah roboh dan sangat membahayakan.
Lebih ironisnya lagi yang membuat hati ini terenyuh dan tak kuat menahan kembali tetesan air mata disaat kutatap wajah tua ayah dan ibuku tercinta, dimana rambut hitamnya sudah mulai sebagian memutih, wajah keriput dipipinya sudah semakin jelas, serta otot-ototnya yang semakin mengering dimakan usia. Sebenarnya usia ayah dan ibu tidak begitu jauh dari orang dewasa pada umumnya namun diriq paham semua itu disebabkan oleh beban tanggung jawab dan kerja kerasnya yang membuat ayah begitu cepat termakan oleh usia.
Spontan diriku ingin berteriak dan merobek ijazah SMAq yang semula ingin saya jadikan oleh-oleh untuk saya pamerkan atas dasar kesuksesanku dengan sebuah kerja kerasq menjadi sirna. Perlahan kukeluarkan sebuah kertas tebal yang kubungkus rapi dengan map warna hijau dari sekolahku dan kutatap dengan penuh perasaan serta penghayatan serta kutanyakan apakah ijazah ini bisa saya jadikan biaya untuk adikq masuk sekolah nanti? Apakah ijazah yang saya banggakan ini dapat memperbaiki rumahku yang hampir roboh itu? Apakah ijazah yang ingin saya pamerkan dari sebuah hasil keringat kerja kerasku itu bisa membuat usia ayahq kembali seperti dulu? Tidak......... sekali lagi tidak, sedikitpun tidak mungkin bisa! Naluriq menjawab dengan tenangnya.
Air mata kembali mengalir, bukan karena diriq terlalu cengeng, namun keadaanq memang membuatq harus meneteskan air mata kesedihan ini. Semula diriq bermaksud kembali ketanah kelahiranq dan tidak akan kembali lagi ke perantaunq, meninggalkan kenangan kelam hidup tanpa siapa-siapa, tanpa kasih sayang seorang ibu, tanpa wejangan seorang ayah, tanpa canda tawa adik-adikq. Namun ternyata tak semudah yang aq bayangkan. Ijazah SMA yang saya bangga-banggakan ternyata tak bisa berbuat apa-apa untuk masalah kehidupanq. Kini diriq sadar kalaulah perjuanganq belum selesai.
Pada suatu malam setelah selesai solat magrib berjemaah bersama keluarga, aq bicara di depan ayah, ibu juga adik-adikq. ” ayah, ibu.......... setelah saya lulus dari SMA ternyata saya masih belum bisa apa-apa. Belum bisa meringankan beban ayah dan ibu, juga belum bisa membantu biaya pendidikan adik-adikq. Jika ayah ibu tidak keberatan, sudilah kiranya untuk mengizinkan diriq untuk melanjutkan pendidikanq ke jenjang yang lebih tinggi, melanjutkan perjuangan hidup ini, aq harus kembali keperantauanq ibu.....,”. Lama ayah dan ibu terdiam, setelah menarik nafas panjang ayah mencoba menanggapi keinginanq tadi seraya berkata, ”ayah dan ibu mengerti nak apa yang menjadi kegelisahanmu itu, jika memang itu maumu, ayah dan ibu hany bisa berdoa semoga apa yg menjadi cita-cita luhurmu itu bisa tercapai. Ayah tidak bisa menyuruhmu juga tidak bisa menghalangimu, karena kalau ayah menyuruhmu jelas ayah harus membiayaimu sedangkan ayah tak punya apa-apa lagi untuk ayah jadikan uang, hutangnya ayah yang kemarin saja belum bisa ayah lunasi. Dan begitu juga sebaliknya ayah tidak bisa menghalangimu untuk meneruskan pendidikanmu kejenjang yang lebih tinggi karena itu merupakan kemauan dan tekad yang baik apalagi kita memang diwajibkan untuk menuntut ilmu. Jadi kesimpulannya jika memang dirimu ingin melanjutkan pendidikanmu, ya sudah barang tentu dirimu harus mencari biaya sendiri, ayah tidak bisa membiayaimu nak.........maafin ayah.” begitulah tanggapan ayah atas permintaan izinq untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang lebih tinggi seraya menundukkan wajahnya seakan merasa berdosa akan ketidak mampuannya untuk membiayai pendidikanq. Sedangkan ibu hanya tertunduk dan diam seribu kata. Entahlah apa yang ada dalam fikirannya, saya tak mampu membacanya. Tapi yang jelas aura kesedihan juga tersirat dari wajah ibuku.
Jawaban yang singkat padat dan jelas kalaulah keluargaq masih sangat peduli akan pendidikan anak-anaknya namun karena keadaanlah sehingga semua harus seperti ini. Jawaban ini tidak jauh berbeda dengan jawaban waktu aq minta izin untuk melanjutkan dari sekolah menengah pertama ke sekolah menengah atas. Dimana pada saat itu aq sempat mengangur selama satu tahun, karena bantu ayah mencari uang untuk biaya kakak saya yang sudah terlanjur masuk di sekolah menengah atas. Karena apabila saya memaksakan untuk juga masuk SMA, khawatir dua-duanya akan terputus ditengah jalan karena masalah biaya. Maka dari itu aq memutuskan untuk membantu ayah saja mencari uang untuk biaya kakak saya.
Namun setelah satu tahun diriq bergelut dengan pekerjaan. Diriq sangat merindukan akan suasana pendidikan, Haus akan keilmuan kembali aq rasakan, setiap pagi aq melihat sahabat-sahabatq yang satu kelas dulu waktu di SMP kini telah mengenakan seragam putih abu-abu, yang menjadi impianq dulu. Sehingga aq memutuskan untuk pergi jauh merantau untuk sekedar merasakan seragam putih abu-abu tersebut. Dan sekarang itu sudah menjadi masa lalu. Tinggallah mimpiq sekarang untuk dapat merasakan menjadi seorang mahasiswa. Seorang yang katanya menjadi kunci perubahan, sebuah kontrol sosial, dan seorang penganalisa keadaan yang selalu mengabdi kepada bangsa dan tanah air tercinta. Itulah katanya mahasiswa yang kutau dari cerita kakekq waktu aq dibawa kesawah bersamanya.
Dan hanya berselang beberapa hari dirumah, akhirnya aq putuskan untuk kembali ke perantauan. Sebanarnya belumlah terobati rasa rindu dan kangen ini terhadap keluargaq apalagi adikq yang masih mungil itu yang masih sangat mengharapkanku menemaninya bermain. Namun masa depanq memaksaq untuk mengambil keputusan ini. Kembali hidup sendiri meninggalkan ayah, ibu, serta adik-adikq. Kembali meninggalkan kulupan sayur hijau dicampur sambel kacang masakan khas ibu yang sangat aq suka dan selalu membuatq rindu untuk pulang.
Bersambung................!
