Jumat, 24 Desember 2010

perjalanan hidup

Oleh : hasin pasti bias
(tulisan ini berawal dari banyaknya pertanyaan akan keingin tahuan teman-temanq tentang cerita kisah hidupq sehingga aq ada di pulau madura, yang pada saat itu hanya bisa aq jawab dengan jawaban “ ceritanya panjang sob..!” dikesempatan kali inilah aq tuangkan dalam sebuah tulisan sehingga teman-teman bisa membacanya tanpa harus aq jelaskan, tentunya dengan harapan semoga bias memberikan hikmah yang positif dalam berbagi pengalaman. Selamat membaca………)
Pesan ibuku disaat kucium tangannya pada waktu q harus meninggalkannya pergi ke tempat perantaunq. “ hati-hati diperantauan nak, jaga diri baik-baik. disana dirimu tidak memiliki siapa-siapa. jangan disamakan dengan daerah sendiri, dirimu harus bisa menyesuaikan diri, dimana bumi engkau pijak disitulah langit yg harus kamu junjung dengan artian dirimu harus memahami budaya serta adat daerah yang engkau tempati. Benar adanya dan saya sangatlah memahami apa sebenarnya yang ingin ibu sampaikan kepadaq lewat pesannya itu bahwasanya beliau masih sayang padaq.
Beda dengan saat kudengarkan wejangan ayahku di saat beliau telfon aq. Beliau mengatakan “aq percaya sama dirimu nak, dirimu sudah cukup dewasa tentunya sudah sangat bisa membedakan antara yang baik dan yang tidak baik untuk dirimu lakukan. Ayah sudah tidak mungkin mendektemu lagi mengingat dirimu juga sudah seharusnya mencari jati dirimu sendiri. Lakukan apa yang menurutmu baik dan jangan lakukan apa yang menurutmu tidak baik. insaAllah doa ayah selalu bersamamu nak. Sepintas memang tidak ada yang istimewa dari pesan diatas namun makna dari sebuah kata percaya memiliki pemaknaan yang sangat luar biasa bagiq, dimana sangatlah mahal untuk mendapatkan sebuah kepercayaan dari seorang ayah untuk anaknya yang masih belajar menata keindahan dalam sebuah kehidupan yang selalu disetarakan dengan keseimbangan antara nafsu dan akal. “terima kasih ayah……” jawabq singkat namun penuh penghayatan seraya meneteskan air mata sukurq pada-NYA. Lalu kumatikan telfonq dengan mengucapkan salam semoga ayah selalu dalam lindungan-NYA selalu.
Ayah memang sengaja memberi pesan itu lewat handpone pamanq karena diriq paham, ayah tidak ingin memperlihatkan air matanya kepadaq. Beliau ingin aq tegar dalam menjalani hidup yang penuh tanda tanya ini. Setegar batu karang di tepi pantai yang selalu kokoh walaupun badai gelombang tiada henti menghempasnya. Itulah ayahq, patriot kebanggaanq yang mengajariku kemandirian dan kejujuran serta untuk selalu berbuat baik.
Sirine kapal berbunyi bertanda kapal siap diberangkatkan, ayah beserta adik dan keluargaq melambaikan tangan sebagai isarat ucapan selamat jalan semoga selamat sampai tujuan. Spontan diriq membalas dengan lambaian tangan pula, seakan- akan diriq menjawab ucapannya dengan doa semoga ayah beserta keluarga tetap sehat dan dapat bertemu kembali dengan oleh-oleh hasil dari kerja keras untuk menggapai cita-citaq.
Dengan cepat kapal berlayar meninggalkan dermaga tanah kelahiranq itu. Sehingga sudah tak dapat lagi kulihat sosok seorang ayahq, bahkan dermaga yang tadinya sangat besar itupun sekarang sudah kelihatan sangat kecil dan perlahan sudah tak tampak lagi. Diriku enggan beranjak masuk kedalam ruang kapal, seakan diriku masih belum rela melepas dan meninggalkan tempat dimana aq dilahirkan dan dibesarkan itu. Walaupun sebenarnya diriku harus istirahat karena perjanalan masih terlalu jauh untuk kutempuh, butuh sekitar tiga kali 24 jam untuk diriq sampai pada tempat tujuanq.

***
Waktu berjalan begitu cepat, rintangan, ujian, cobaan silih berganti menerpa kehidupanq di daerah perantauan itu. Tiga tahun sudah lamanya tak bersua dengan keluargaq, rasa kangen, rindu akan kampung halaman, rindu akan masakan ibu, rindu akan teman sepermainanq, yang sebelumnya tak sempat dirasakan karena bergelut dengan buku, bolpoint serta sapu lidik yang setia menemaniq disetiap pagi dan soreq. Kini kembali semua hadir dalam anganq yang tak lagi dapat dibendung waluapun oleh kotornya halaman sekolahq yang biasa setiap pagi dan sore harus kusapu sebagai tugas harianq untuk dapat menikmati pendidikan gratis dari sekolahq.
Gemetar tanganq serta merinding tubuhku dan mengalir deras keringat dinginq setelah kulihat apa yang ada dalam genggaman tanganq. Sebuah kenyataan yang tak pernah terlintas dalam mimpiq untuk dapat memilikinya. Ijazah Sekolah Menengah Atas Swasta dengan sebuah namaku yang ditulis dengan tinta berwarna emas membuatq bertanya, benarkah ini kenyataan dalam hidupq?
Dengan perasaan yang sangat luar biasa akhirnya diriq di izinkan untuk pulang menemui keluargaku ditanah kelahiranq. Dengan sangat senang dan bangga ku beranjak pergi meninggalkan tempat dimana diriq meraih keajaiban dalam hidupq.

***
Sampai dikampung halamanq, diriq disambut bahagia oleh keluargaq, namun dibalik kebahagiaan itu ada sesuatu yang berbeda dalam benakq. Kurang lebih tiga tahun diperantauan seakan banyak perubahan yang terjadi pada keluargaq. Adikq yang dulu masih berumur dua tahun kini sudah beranjak besar dan jelas sebentar lagi dia harus sudah didaftarkan di sekolah dasar untuk mengenyam pendidikan agar masa depannya dapat diharapkan. Rumahku yang memang terbuat dari kayu hutan itu sangat berbeda dengan waktu saat aq tinggalkan dulu, kini sudah sangat banyak butuh perbaikan, bahkan jika hujan turun tak sedikit tempat yang basah karena atap rumahku yg terbuat dari daun sagu itu sudah banyak yang rusak dan bocor. Dan bahkan sudah ada beberapa bagian dari beberapa sudut yang sudah roboh dan sangat membahayakan.
Lebih ironisnya lagi yang membuat hati ini terenyuh dan tak kuat menahan kembali tetesan air mata disaat kutatap wajah tua ayah dan ibuku tercinta, dimana rambut hitamnya sudah mulai sebagian memutih, wajah keriput dipipinya sudah semakin jelas, serta otot-ototnya yang semakin mengering dimakan usia. Sebenarnya usia ayah dan ibu tidak begitu jauh dari orang dewasa pada umumnya namun diriq paham semua itu disebabkan oleh beban tanggung jawab dan kerja kerasnya yang membuat ayah begitu cepat termakan oleh usia.
Spontan diriku ingin berteriak dan merobek ijazah SMAq yang semula ingin saya jadikan oleh-oleh untuk saya pamerkan atas dasar kesuksesanku dengan sebuah kerja kerasq menjadi sirna. Perlahan kukeluarkan sebuah kertas tebal yang kubungkus rapi dengan map warna hijau dari sekolahku dan kutatap dengan penuh perasaan serta penghayatan serta kutanyakan apakah ijazah ini bisa saya jadikan biaya untuk adikq masuk sekolah nanti? Apakah ijazah yang saya banggakan ini dapat memperbaiki rumahku yang hampir roboh itu? Apakah ijazah yang ingin saya pamerkan dari sebuah hasil keringat kerja kerasku itu bisa membuat usia ayahq kembali seperti dulu? Tidak......... sekali lagi tidak, sedikitpun tidak mungkin bisa! Naluriq menjawab dengan tenangnya.
Air mata kembali mengalir, bukan karena diriq terlalu cengeng, namun keadaanq memang membuatq harus meneteskan air mata kesedihan ini. Semula diriq bermaksud kembali ketanah kelahiranq dan tidak akan kembali lagi ke perantaunq, meninggalkan kenangan kelam hidup tanpa siapa-siapa, tanpa kasih sayang seorang ibu, tanpa wejangan seorang ayah, tanpa canda tawa adik-adikq. Namun ternyata tak semudah yang aq bayangkan. Ijazah SMA yang saya bangga-banggakan ternyata tak bisa berbuat apa-apa untuk masalah kehidupanq. Kini diriq sadar kalaulah perjuanganq belum selesai.
Pada suatu malam setelah selesai solat magrib berjemaah bersama keluarga, aq bicara di depan ayah, ibu juga adik-adikq. ” ayah, ibu.......... setelah saya lulus dari SMA ternyata saya masih belum bisa apa-apa. Belum bisa meringankan beban ayah dan ibu, juga belum bisa membantu biaya pendidikan adik-adikq. Jika ayah ibu tidak keberatan, sudilah kiranya untuk mengizinkan diriq untuk melanjutkan pendidikanq ke jenjang yang lebih tinggi, melanjutkan perjuangan hidup ini, aq harus kembali keperantauanq ibu.....,”. Lama ayah dan ibu terdiam, setelah menarik nafas panjang ayah mencoba menanggapi keinginanq tadi seraya berkata, ”ayah dan ibu mengerti nak apa yang menjadi kegelisahanmu itu, jika memang itu maumu, ayah dan ibu hany bisa berdoa semoga apa yg menjadi cita-cita luhurmu itu bisa tercapai. Ayah tidak bisa menyuruhmu juga tidak bisa menghalangimu, karena kalau ayah menyuruhmu jelas ayah harus membiayaimu sedangkan ayah tak punya apa-apa lagi untuk ayah jadikan uang, hutangnya ayah yang kemarin saja belum bisa ayah lunasi. Dan begitu juga sebaliknya ayah tidak bisa menghalangimu untuk meneruskan pendidikanmu kejenjang yang lebih tinggi karena itu merupakan kemauan dan tekad yang baik apalagi kita memang diwajibkan untuk menuntut ilmu. Jadi kesimpulannya jika memang dirimu ingin melanjutkan pendidikanmu, ya sudah barang tentu dirimu harus mencari biaya sendiri, ayah tidak bisa membiayaimu nak.........maafin ayah.” begitulah tanggapan ayah atas permintaan izinq untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang lebih tinggi seraya menundukkan wajahnya seakan merasa berdosa akan ketidak mampuannya untuk membiayai pendidikanq. Sedangkan ibu hanya tertunduk dan diam seribu kata. Entahlah apa yang ada dalam fikirannya, saya tak mampu membacanya. Tapi yang jelas aura kesedihan juga tersirat dari wajah ibuku.
Jawaban yang singkat padat dan jelas kalaulah keluargaq masih sangat peduli akan pendidikan anak-anaknya namun karena keadaanlah sehingga semua harus seperti ini. Jawaban ini tidak jauh berbeda dengan jawaban waktu aq minta izin untuk melanjutkan dari sekolah menengah pertama ke sekolah menengah atas. Dimana pada saat itu aq sempat mengangur selama satu tahun, karena bantu ayah mencari uang untuk biaya kakak saya yang sudah terlanjur masuk di sekolah menengah atas. Karena apabila saya memaksakan untuk juga masuk SMA, khawatir dua-duanya akan terputus ditengah jalan karena masalah biaya. Maka dari itu aq memutuskan untuk membantu ayah saja mencari uang untuk biaya kakak saya.
Namun setelah satu tahun diriq bergelut dengan pekerjaan. Diriq sangat merindukan akan suasana pendidikan, Haus akan keilmuan kembali aq rasakan, setiap pagi aq melihat sahabat-sahabatq yang satu kelas dulu waktu di SMP kini telah mengenakan seragam putih abu-abu, yang menjadi impianq dulu. Sehingga aq memutuskan untuk pergi jauh merantau untuk sekedar merasakan seragam putih abu-abu tersebut. Dan sekarang itu sudah menjadi masa lalu. Tinggallah mimpiq sekarang untuk dapat merasakan menjadi seorang mahasiswa. Seorang yang katanya menjadi kunci perubahan, sebuah kontrol sosial, dan seorang penganalisa keadaan yang selalu mengabdi kepada bangsa dan tanah air tercinta. Itulah katanya mahasiswa yang kutau dari cerita kakekq waktu aq dibawa kesawah bersamanya.
Dan hanya berselang beberapa hari dirumah, akhirnya aq putuskan untuk kembali ke perantauan. Sebanarnya belumlah terobati rasa rindu dan kangen ini terhadap keluargaq apalagi adikq yang masih mungil itu yang masih sangat mengharapkanku menemaninya bermain. Namun masa depanq memaksaq untuk mengambil keputusan ini. Kembali hidup sendiri meninggalkan ayah, ibu, serta adik-adikq. Kembali meninggalkan kulupan sayur hijau dicampur sambel kacang masakan khas ibu yang sangat aq suka dan selalu membuatq rindu untuk pulang.
Bersambung................!

gadis berkacamata itu,...

Bukan yang pertama kali ku bertemu dengannya, bahkan bisa dikatakan sering, karena memang kesibukan aq dan dia ada diwilayah yg sama tepatnya kampuz yg sama. seperti biasa diriku selalu mondar mandir karena aktifitasq keseharian dibidang kehumasan kampus. kebetulah sekarang hari jumat, tepat pukul 11.40 kumandan azan berbunyi. sehingga aq sedikit tergesa-gesa karena harus secepatnya kemasjid untuk melaksanakan solat jumat bersama. ditengah perjalanan ada suara lembut menyapa "akhi tidak sholat ?"... hatiq tertegun, aq tersentak, kuangkat wajahq, subhanallah......... gadis itu yang selama ini hanya menyapa dengan senyuman telah menegurq dengan suaranya yang lembut namun menusuk kerelung hatiq....... "oh iya ini masih dari pusat habis tugas, kehumas dulu baru langsung kemasjid" jawabq dengan sedikit senyum sbg ucpn terima kasih atas peringatannya. tak kusangka gadis itu perhatian juga yah.... sukron ukhti.......

fakultas tercintaq

Konon disuatu hari ada salah satu fakultas di Universitas Tidak Maju yang biasa disingkat UTM ingin merayakan hari jadinya. Yaitu Fakultas Ilmu g’ Jelas dan Ilmu g’ Pasti yang disingkat fakultas FIRASAT. Maka dikumpulkanlah beberapa perwakilan dari badan kelengkapan fakultas FIRASAT tersebut, mulai dari Himpunan Mahasiswa g’ Jelas (tu kan ikut-ikutan g’ jelas mahasiswanya) atau yang biasa disingkat HMJ, Unit Kegiatan Mencari Fakultas, jadi tugasnya dari unit ini tidak ada lain hanya mencari fakultasnya, klo sudah menemukan fakultasnya dia akan dibubarkan karena dianggap tugasnya sudah selesai. Dan perwakilan dari BEM (Badan Example Mahasiswa) yang katanya ini adalah unit tertinggi yang ada difakultas. Karena namanya badan example mahasiswa jadi yang duduk didalamnya adalah mahasiswa percontohan semua,  dan itu sich katanya………..! jangan GR dulu, bisa-bisa menjadi percontohan pencabulan, ha…ha…ha….Tapi kita doakan semoga badan example kita memang benar-benar layak menjadi badan percontohan yang sesungguhnya.
Nah yang terakhir nich perwakilan dari Dewan Pencari Mahasiswa Fakultas atau yang biasa disebut DPMF. Konon dewan ini dibentuk karena mahasiswa fakultas FIRASAT pada hilang semuanya, g’ tau kemana larinya, g’ pernah masuk kuliah, g’ pernah ngerjakan tugas, g’ pernah mengadakan kegiatan baik diskusi atau semacamnya sehingga g’ pernah ada proposal yang masuk dan dana fakultas FIRASAT menumpuk tidak terserap sehingga untuk menghabiskan dananya fakultas FIRASAT ini harus jalan-jalan sebanyak dua kali, bayangkan? Ach , g’ usah dibayangkan udah jelas pasti uuuuueeenak pool rasanya.
            Maka dengan beberapa pertimbangan dan rasa yang sangat khawatir karena anak didiknya pada hilang, maka dibentuklah DPMF atau dewan pencari mahasiswa fakultas yang tugasnya mencari mahasiswa fakultas FIRASAT yang hilang. Ternyata setelah dewan ini melakukan pencarian atau pemburuan terhadap mahasiswa-mahasiswa yang hilang, apa yang terjadi? Mereka menemukan mahasiswa FIRASAT diberbagai tempat seperti warung kopi, gedung DPRD, tempat mancing, dan di dalam Gua.
Setelah dilakukan introgasi kepada setiap mereka dari masing-masing tempat yang menjadi pilihan nongkrongnya dibanding harus datang ke kampus dan mengikuti kegiatan belajar mengajar atau perkuliahan, ternyata jawabannya bermacam-macam.
Deden, salah satu mahasiswa jurusan Ilmu Kompromi yang pada saat itu ditemukan nongkrong diwarung kopi, padahal seharusnya dia masuk dan mengikuti mata kuliah kompromi batin, menjawab dengan tenang, “ngapain kuliah? dosennya g’ bisa diajak kompromi. Masak saya udah semangat-semangatnya kuliah sampai g’ mandi, nyampe kampus malah disuruh tanda tangan saja. Klo cuma tanda tangan sich dari SD aq juga udah bisa ngapain ngabis-ngabisin uang klo hanya  untuk belajar tanda tangan, mending ngopi walupun ngabisin uang tapi maknyos”. Jawab Deden dengan gaya sombongnya sambil menikmati secangkir kopi hitam dan menghembuskan asap rokoknya ke udara seakan-akan tiada lagi kenikmatan yang dapat menandingi. Diriku spontan menggeleng-gelengkan kepala seakan tak percaya mahasiswa yang kerjaannya mendengkur dan menghayal itu ternyata cerdas juga, gumamku. Tanpa pamit perwakilan dewan itu pergi dengan muka merah menahan malu.
Lain ladang, lain belalangnya, jadi lain orang lain juga isi otaknya. Toni mahasiswa jurusan salahlagi ditemukan berdiri tegak seorang diri di depan gedung DPRD dengan sebilah batang bambu ditangan yang diujung bambu tersebut berkibar bendera merah putih. Toni berteriak layaknya orang kesurupan menuntuk keadilan seadil-adilnya, “wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur saat sidang soal rakyat” begitulah terdengar sangat lantang dan penuh perjuangan toni menyanyikan lagu ternama Iwan Fals tersebut. Setelah ditemui dan diintrogasi kenapa memilih berteriak di bawah terik matahari dari pada harus masuk kuliah mengikuti mata kuliah salahlagi ya masyarakat ? toni menjawab: “ saya kuliah karena dirumah g’ betah di omelin ma ibu, bapak, nenek, kakek, juga buyut, sampe-sampe tetangga juga ikut-ikutan ngomel(kayak kontes aja semua pada ngomel……). Mereka ngomel karena saya g’ kerja katanya, jadi makhluk tidak berguna katanya, makanya saya mau kuliah awalnya emoh, tapi kenyataannya setelah kuliah saya juga hanya diomelin, di takut-takutin dengan banyaknya serjana pengangguran, diceramahin katanya mahasiswa taunya hanya minta kiriman. Alah klo itu mah diriku g’ dijelasin juga udah tau, makanya kami kuliah mau cari solusi dari semua itu tapi dosennya g’ pernah mengajari kita yang pasti-pasti, malah setiap mau bimbingan malah juga tambah diomelin klo aq g’ paham inilah, itulah, ya sudah dari pada hanya diomelin mending saya ngomelin mereka wakil rakyat, atau setidaknya saya belajar demo siapa tau ada yang mau bayar saya buat demo pak Budiono dengan bu Sri Mulyani yang sekarang sudah dipinang Bank dunia, atau jelasnya amerika, musuh besar kita. Kan lumayan dapat kerjaan sekaligus dapat bayaran uang, ha…ha….ha……..” jawabnya dengan panjang lebar sambil tertawa terbahak-bahak. Ternyata dia sudah sakit jiwa karena tekanan batinnya. Lagi-lagi aku geleng-geleng kepala, ternyata Toni yang dulunya terkenal pendiam dan rajin membaca novel-novel perjuangan itu sekarang telah mengalami gangguan jiwa karena tekanan dan tuntutan hidupnya. masaAllah…… hatiku kembali menangis ternyata pendidikan sekarang tidak hanya bisa membuat anak didiknya bisa pintar, juga cerdas tapi juga bisa membuat stress dan gila. Naudzubillah, bergegas ku tempelkan dahiku ke tanah penuh dengan debu untuk melakukan sujud sukur atas segala anugrah dan nikmat kesehatan yang telah tuhan berikan kepadaku. Ya tuhan jadikanlah hamba manusia yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Seloroh hatiku penuh gemetar dan rasa takut karena telah lama hamba lupa akan nikmat-MU ya Rabb.
Berbeda dengan Toni yang sekarang kerjaanya hanya membawa bendera merah putih kesana-kemari sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan dengan telanjang dada dan memakai ikat kepala dari kain berwarna merah. Novi mahasiswi cantik fakultas FIRASAT jurusan ilmu pusinglagi ditemukan memancing disebuah kolam tidak jauh dari kampus. Setelah diintrogasi kenapa tidak masuk kuliah padahal dia seharusnya mengikuti kuliah pengantar pusinglagi. Novi menjawab : “alah masuk ato g’ masuk ya sama aja” jawabnya santai, singkat tapi g’ jelas. Apanya yang sama? Tanya perwakilan dewan pencari mahasiswa tersebut penuh penasaran. “sama pusingnya dan tentu juga nilainya !” kembali Novi menjawab. “Ach yang bener, masak ia, masuk kuliah dengan g’ masuk kuliah nilainya bisa sama”, perwakilan itu kembali bertanya dengan penuh penasaran dan rasa tidak percaya seraya menggeserkan tempat duduknya untuk lebih mendekat ke tubuh Novi yang lagi asik memain-mainkan kailnya seakan-akan berisarat kepada ikan untuk memakan umpannya. “Iya bisalah masak bisadonk” jawabnya dengan gaya centil seorang gadis cantik dengan bulat mata pimpong dan sepasang lesung pipinya membuat perwakilan DPMF itu harus menelan kekecewaan karena g’ mungkin dia bisa menjadi pacarnya(alah menghayal mane……..). “caranya?” Tanyanya balik. “Nyontek dong………! Masak mahasiswa g’ tau? G’ gaul loch…….!” Sentaknya kepadaku tanpa perasaan dosa sedikitpun. “Eleh-eleh nich cewek apa kuntilanak sich kok dari tadi mainnya bentak-bentakan terus”, gumamnya dalam hati. Sambil mengelus dada dan agak sedikit menjauhkan kepala karena takut dibentak lagi, dia coba mengajukan pertanyaan kembali. “Emang g’ dimarahin nenk ama dosennya klo ketahuan?” Tanyaku dengan agak sedikit bergaya sok manis seperti pawang ular yang sedang menjinakkan ularnya. “Dosen itu juga pernah menjadi mahasiswa, jadi bukannya g’ tau tapi beliau g’ tega aja sama kita, jadinya pura-pura g’ tau ajah, gitu…….. udah sana-sana”, dia mengusir lelaki itu sambil mengayun-ayunkan kailnya agar lelaki itu cepat pergi dari sampingnya. “Gangu ajah, ga’ tau orang lagi mancing malah diwawancarai ajah, mending klo masuk acara mancing mania di TV keren, ini boro-boro masuk TV, masuk penjara mungkin!” Umpatnya dengan wajah penuh kekesalan dengan gaya sedikit tomboynya yang persis kayak koboy kehilangan kudanya.
Tanpa ba-bi-bu, lelaki itu langsung pergi, takut melihat wajah garangnya. “Apa kata dunia ?”katanya. Dia jadi ingat sebuah Film Naga Bonar yang dibintangi oleh Dedi Mizwar. Semua memang udah pada gila, dan sok tau! umpatnya setelah berada lumayan jauh dari gadis asal Tanggerang itu, walaupun sebenarnya dirinya juga membenarkan apa yang gadis tomboy itu katakan karena memang itulah kenyataan yang sering dia saksikan, bahkan anehnya kadang yang tidak pernah masuk atau jarang nongol dikelas nilainya bisa lebih tinggi dari pada yang rajin masuk dan rajin bertanya di kelas. Aneh, itulah dunia, yang semuanya serba menipu. Yang terpenting jangan sampai menjadi penipu. Itu saja!
Nah klo ini beda lagi, Juni namanya. Mahasiswi jurusan Sama Pusingnya atau yang lebih dikenal dengan singkatan Sasing itu ditemukan sedang duduk bersila di sebuah Gua tua yang letaknya sangat jauh dari keramaian. Untuk menjangkau tempat tersebut butuh perjalanan hampir dua hari dua malam, melewati jalan setapak dan perbukitan terjal. Untung lelaki perwakilan DPMF itu pernah menjadi anggota dari Mahasiswa Pencinta Alam jadi kondisi seperti itu sudah biasa dia alami. Setelah sampai di Gua tersebut, dia langsung mengajaknya pulang tanpa banyak tanya seperti biasanya yang dia lakukan pada kebanyakan mahasisiwa yang hilang. Karena dirinya sangat khawatir akan terjadi apa-apa terhadap gadis secantik dia jika berlama-lama di dalam gua yang sepi seorang diri. Namun Juni menolak ajakan lelaki itu. Juni berkilah belum mendapatkan jawaban katanya dan dia sudah berjanji tidak akan pulang sebelum mendapatkan jawabannya. Kamu butuh jawaban apa, dan bertanya sama siapa? Tanya lelaki itu pada Juni penuh dengan keheranan. Sebenarnya di benak lelaki itu terbersit jawaban kecil, mungkinkah dia lagi bertanya sama tuhan? Atau dia lagi menunggu jawaban dari pacarnya? Namun dia dikejutkan dan hampir terkencing-kencing karena tidak kuat menahan tawa setelah mendengar jawaban Juni atas pertanyaan lelaki itu. “Aku bertanya kepadanya, tapi dia tak pernah menjawab pertanyaanku”, jawabnya dengan lugu sambil menunjuk sebatang rumput yang sedang bergoyang. Dengan seketika lelaki itu berguling-guling diatas rumput yang bergoyang tersebut penuh dengan kegelian, ingin rasanya tertawa terbahak-bahak sambil loncat-loncat tapi tak mungkin karena dirinya bukanlah kuda lumping. dan lucunya hampir saja membuat dia ngompol dalam celananya karean tak tahan menahan tawa yang seketika itu dirasakannya. Juni, oh……. Juni, kenapa pula kau bertanya pada rumput yang bergoyang itu, dan apakah gerangan yang engkau tanyakan? Tanya lelaki itu dengan gaya seperti pahlawan bertopeng yang datang kesiangan dan lupa tidak pakai celana dalam. “Aku bingung akan negri ini, akan bangsa ini, akan agama ini, jika terus-terusan harus saling menyalahkan dan saling menjatuhkan serta tanpa peduli atas sesama karena kesibukannya masing-masing, kejujuran hanya ada di pelajaran SD dan tak akan pernah diterapkan karena mereka telah sarjana dan lupa, katanya Ebit tanyakan kepada rumput yang bergoyang, tapi jangankan menjawab, untuk bergoyang saja rumputnya enggan. Makanya aku bingung. Jawabnya dengan pebuh keluguan. Memang, Juni adalah mahasiswi yang lugu yang hanya selalu mendengarkan. Dia sangat pendiam tapi diamnya ibarat Tipe Recorder yang siap merekam berbagai macam kejadian yang dia dengar dan dia lihat disekitarnya. Diamnya adalah emas, namun karena terlalu sering diam sehingga teman-temannya mengganggapnya dia mahasiswi yang memiliki keterbelakangan mental, padahal otaknya terus berputar, ibarat mesin penggiling yang siap menghancurkan apapun yang masuk kedalamnya.


KUSAPA ENGKAU DENGAN AIR MATA CINTA

Mencoba berlari dari bayanganmu
Dengan roda waktu yang tak bisa ku berbicara jujur padamu
dalam sebuah lipatan panorama indah bersamamu
kujadikan sebuah lukisan sunyi tanpa kata-kata
menjadi kenangan pada setiap hembusan nafas cinta

tepat diatas hening, hati menari
mengikuti irama ilalang dipagi hari
bersama semilir angin yang terus menghembus diri
menggigil bersama bayang-bayang yang tak pasti
mungkinkah diri ini akan mati?

Itu pasti…………..
walau cinta tak hanya berhenti disaat ajal menghampiri
bermain dengan kelam sunyinya pagi
sehingga aku kembali membawa mimpi
untuk  menyapamu  dengan air mata cinta ini

pergilah………
hampiri kesunyian itu
bawa pergi bila engkau perlu
karena aq ingin sendiri dalam keramain hati
hingga tiba saatnya aq berlari
menjemputmu dengan hati
agar kau tak lagi sendiri menanti
dalam sebuah rindu yang tak bertepi………

jangan dibaaca....

ni orang emang mokong ya........ udah dibilangin jangan dibaca malah diterus-terusin. eh udah sampe disini aja jangan diterusin bacanya...... tu kan tambah diterusin. ya udah puas-puasin deh bacanya. Seperti biasa pada saat aku ketemu dia pasti terjadi adu argument memperdebatkan sesuatu yang tidak begitu penting sebenarnya. Atau hal yang memang g butuh diperdebatkan. Tapi entahlah kenapa perdebatan selalu terjadi. Lebih tepatnya mungkin bukanlah debat tapi adu ego masing-masing, he… he.. he…
Untuk kali ini g’ tanggung-tanggung tema yang kita perdebatkan yaitu soal wanita inspiring(wow.. masih adakah?.....). Awalnya bermula dari permintaanq untuk dicarikan wanita yang bisa menjadi inspirasi agar aq bisa menjadi orang yang sedikit lebih baik. Mengingat dia adalah wanita yang inspiring sebenarnya tapi sayang beliaunya udah ada yang punya(itu sich katanya, blm tau pastinya). Dan lagian jika memang belumpun kayaknya diriq masih terlalu najis (bahasa lebaynya) untuk dia. Tapi bukannya menuruti permintanku. Beliaunya malah mengeluarkan hadist dan segala tetek bengeknya, kata beliau kalau menginginkan sesuatu dari orang lain itu harus ada dulu pada diri kita contoh klo kita ingin mendapatkan wanita yang soleha ya kita harus menjadi cowok yang soleh. Dan kata beliau lagi jadilah yang pertama dan seterusnya pokoknya banyak dech, alih-alih membantuku mencarikan wanita inspiring, adanya malah aku yang diceramahin, ampun dah………
Tanpa ba-bi-bu langsung saya cut sekaligus saya pasang wajah garang dan spontan saya katakan “nenk saya tidak minta diceramahin, yang saya mintai tolong mungkin nenk punya temen cewek yang cocok untuk ana…….” Paparku dengan agak sedikit kesel. “ iya aku tahu…… tapi kita tidak boleh mendahulukan orang lain dalam kebaikan atau dalam masalah ibadah. aku saja belum……! Celetuknya sambil sedikit membetulkan kacamata yang sedari tadi menghias wajahnya sehingga sedikit kelihatan lebih lucu dari biasanya(seperti ikan lohan, he.. tapi tetep cantik kok apalagi pada waktu lagi saling lempar senyum seakan-akan dunia ini runtuh dan menimpa kita berdua sehingga kita mati bersama*gpp yang penting masuk surga*). Udah dulu yah bosq sudah datang ntar lagi kita lanjutin………..

(Tulisan ini hanyalah tulisan seorang pujangga yang tidak ada kerjaan alias penganguran jadi apabila terjadi kesamaan atau kemiripan dengan pengalaman anda itu hanyalah kesengajaan belaka sehingga tidak butuh untuk diperdebatkan apalagi diadukan ke mahkamah konstitusi untuk mendapatkan dukungan koin layaknya prita mulya sari tapi klo ada yang mau nyumbang dengan sangat menyesal akan saya terima untuk beli makan)

Cuma lamunan....

tidurlah sayank.......
bersama mimpi-mimpi yg akan menemani dalam lelapmu
karena tak mungkin aq hadir membawa luka
kecuali dalam kelam
dalam kelam hati yg mungkin masih berharap esok engkau bisa kembali tersenyum
seperti dulu
seperti senyuman manis saat aq harus menyapamu dengan salam

tidurlah sayank.......
ditemani binar kaca matamu yg anggun
membawa pesona dengan tebaranmu yang menggoda
membuat hati ini seakan tetap setiaa
walau sudah kau ikrarkan dirimu sudah ada yg punya.....

lautan samudra kulukis dengan ribu raut wajahmu
seperti saat kau lempar aq dengan senyum manismu
seperti saat kau pukul aq dengan salammu
seperti saat kau rangkul aq dengan nasehatmu
namun gelombang datang
menghapus semua lukisan itu
melambungkanq pada seribu wajah yang lain

Tak usah kau bayangkan....!

Biarkan aq disini bersama rembulan
Ditemani dengan kerlap kerlip lampu kapal nelayan
Tanpa bayangan malam yang dingin menggetarkan
Terbang melayang membawamu bersama angan
Hingga engkaupun berdecak
Bersama riak gelombang lautan
Menyampaikan pesan akan kesepian
Yang tercipta dari luka perih sang perawan
Menahan rasa bak sayatan pedang samurai

Diantara mercusuar malam,
Kau lantunkan syair malam kepada sang adam
Bahwa kau tercipta bukan dari tulang rahang
Yang harus selalu ku puja dan kusanjung sayang
Tapi kau juga bukan tercipta dari tulang cangkang
Yang harus di bersihkan dari kotoran pasir pantai
Namun kau tercipta dari tulang rusuk kiri sang adam
Yang letaknya diantara rahang dan cangkang
Bersama hati yang selalu penuh kasih sayang

Bersama angin kuasingkan diri ini
untuk sekedar menemani hatimu yg  sunyi
untuk berlari mengejar mimpi
agar dirimu tak lagi merasa sendiri
karena hati ini tlah lama menemani
walau tak pernah kau beri arti

bersama rintik hujan kita berkeluh tentang malam yang sebenarnya cerah tanpa awan
bersama riak gelombang kita membayangkan cinta kasih masa depan
bersama redup cahaya  rembulan kita menari bersama bintang
menabur cahaya di ladang kebencian
yang kita pancarkan pada luasnya lautan
terbias oleh desingan baling2 kapal penumpang
yang kusimpul di dermaga tak bertuan
agar kau paham dan tak lagi kesepian
karena disini q masih bisa bertahan
menanti jawaban tentang kepastian
atas sempurnanya ciptaanmu tuhan
untuk kuabadikan dalam sebuah tulisan
                                      Dermaga kamal 9 desember 2010

Aku Cemburu Padamu Bintang

Sedari pagi ku bertengger disini, di hadapan sebuah melodi tak bertepi, mengharapkan kau hadir membawa inspirasi agar aq dapat menari dengan jemari untuk memenuhi segala janji akan tulisanku hari ini. namun merpati datang membawa pesan bahwa dirimu lagi tak enak badan sehingga aq tak bisa melanjutkan kecuali harus berdendang dengan pesan yang kau kirim dengan hembusan agar aq tak lagi berteman karena dirimu masih ingin sendirian.
oh bulan kemana cahayamu? kenapa kau biarkan malamnya tak bercahaya terang, oh bintang bawakan dia teman untuk bisa berkata sayang agar hati ini tak lagi bimbang kalaulah diriku juga berharap dia akan datang dipelukan dengan asa rindu dan sayang yang mungkin sudah tertanam beberapa tahun silam namun diriku tak berani mengatakan karena dirinya sudah dipinang.
tanpa kau izinkan aq mencoba mengenang, dimana masa-masa kita saling bertatapan, yang kita abadikan dengan bingkai senyuman manis tanpa harapan kecuali kebersamaan perasaan yang sedang kita dendangkan, dan kulukis dengan kanvas buatan dengan bauran warna kesetiaan yang membiaskan pelangi dilautan diantara kapal nelayan yang kian bertahan dari deburan ombak keperkasaan.
irama dendang jemariku telah membawa pikiranq kian jauh meniti lubuk hatimu yg paling dalam, menggetarkan perasaan yang telah lama tertanam untuk ungkapkan klo sejujurnya aq adalah sayang itu, sayang yang kutitipkan pada pelukan awan yang disampaikan melalui rintik hujan yang dulu pernah ku buang karena cemburu pada bintang yang kau jadikan hiasan malam.     

Menanti Hadirmu Dalam Mimpi

Menepi di sudut kamar ini
Sendiri dengan bayang-bayngmu yang sunyi
Ku coba menyatukan hati
Karena tanpa kusadari
Rasa rindu telah meracuni diri

Seribu bidadari menari
Diantara indahnya warna pelangi
Dengan bias rayuan kecantikan dan sapaanmu yang menggoda
Agar aku terjatuh dalam pelukan
Sebuah lamunan diatas ranjang rembulan

Namun hatiq bersenandung dalam diri
Tentang rindu yang telah aq jadikan janji
Dalam bingkai kesetiaan ibarat ikrar raja terhadap sang peri
Untuk terus menjaga dan melindungi
Setiap cahaya yang merongrong kegelapan nan sunyi
Mendendangkan sebuah syair melayu yang sakti
Tentang wajahmu yang selalu menawan hati

                                                 Batu malang 11 desember 2010

Kamis, 23 Desember 2010

Surat untuk ibu……


Ibu…… happy mother day……..!  semoga ibu senantiasa dalam lindunganNYA. Maafkan segala dosa yg mungkin pernah nanda perbuat. Dari semenjak nanda masih dalam kandungan sampai saat ini nanda yang sedang diperantauan. Doamu adalah secercah harapan dalam setiap langkah untuk meniti kehidupan agar mungkin onak berduri serta kerikil panas tak terasa sakit dalam setiap langkah yang nanda hentakkan dibumimu ibu. Biarkan kehangatan pelukanmu menjadi pertapaanku untuk memperoleh mukjizat kesaktianmu
agar nanda mampu memcium aroma surga telapak kakimu ibu,
agar nanda mampu mengusap deras air matamu ibu,
agar nanda mampu menyeka setiap butiran keringat berlianmu ibu
agar nanda mampu bernyanyi dengan irama merdu untuk menghibur setiap kesendirianmu ibu
agar nanda mampu memeluk rindu yang mungkin sedang merasuki dada dan jantung ini ibu
yang telah lama ku simpul dengan doa dan cita-cita yang akan kupersembahkan atas nama cinta dan sayangku padamu ibu,  walau tak mungkin dapat melunasi deras jasa pengorbananmu ibu yang telah menjadi darah dan daging dalam jasad tubuh ini ibu.
Ibu…….. larungkan sesajian yang nanda minta dulu, agar samudra tak lagi bergelombang. Karena bahtera telah jauh berlayar untuk menebus dosa yang mangkat ibarat buih di lautan.
Ibu…….. hembuskanlah angin kencang karena layar kian  berkibar. Menghantarkan para musafir jalanan mengabdi kepada tuhan.
Ibu…….. pancarkan sinarmu yang terang karena malam telah hilang tertelan fajar bersama pekat awan yang kian menjadi rintik hujan agar siang kembali kepelukan.
Ibu……...ucapkanlah salam, agar nanda datang mebawa pulang bidadari dari kahyangan, seperti yang bunda harapkan agar dapat menjadi teman disetiap lantunan doa dan syair yang ibu nyanyikan pada setiap malam disaat terbangun dari mimpi kematian. Ibu………..happy mother day, just for mom......
(surat maya untuk ibu dari anakmu yang jauh di perantauan, 22 desember 2010)

Selasa, 21 Desember 2010

CAGAR ANGIN

Malam ini aku akan kembali berkeluh kesah tentang wanita yang selama ini selalu menjadi bunga tidurku. Entahlah, sebenarnya dia tidak terlalu istimewa bahkan sedikitpun diriku tak berharap dia menjadi milikku. Namun perkenalanku dengannya membuat hatiku selalu berbicara lain. Fikiranku selalu bertolak belakang dengan perasaanku. Tingkah lakuku semakin tak dapat ku arahkan, ibarat bala tentara yang tak lagi patuh pada komando sang raja. Selalu berlaga dengan hanya mengharap simpati kanda. Sungguh luar biasa. Tubuh ini bukan lagi satu, tapi gabungan antara dia dan aku antara benci dan cinta, benci karena tubuh ini tak pantas untuk dirinya yang suci.
Wahai sang dewi, lepaskan panahan yang kau bidik dengan tatapan bulat matamu, yang kau tarik dengan lekukan lesung pipimu, dengan busur lentik bulu matamu. Agar tepat menancap di lubuk hatiku, dan akupun mati tanpa harus membayangkan manis senyummu yang tak mungkin menjadi hidangan pagiku.
Wahai sang dewi, lemparkan jaring yang kau ayun dengan jilbab hitammu, yang engkau rajut dengan kekuatan imanmu, dengan benang keikhlasan takbirmu. Agar aku tak dapat lagi berlari, pergi untuk menghampirimu, untuk menyentuh rambutmu yang tak mungkin menjadi belaian disetiap malamku.
Wahai sang dewi, dua kali telah kau buat diri ini terkapar dalam kesaktianmu, kesaktian yang kau peroleh dari ketulusan dan keindahan budi pekertimu. Yang telah menjadi maha guru dalam hidupku. Untuk mengubur kesombongan yang mungkin belum lulus dalan ujian nasionalku jika tak terbantu oleh perjuangan guru SMAku.
Wahai sang dewi, tegarnya hatimu memang sempat membuat hati ini bulat, tidak seperti buah jambu yang sering kau lukis dalam buku harianku. Sebulat batu karang yang berdiri kokoh ditepi lautan, menghadang ratusan bahkan ribuan terpaan ombak dalam perhitungan dewa.
Wahai sang dewi, lembut tanganmu telah membuat tangan ku terkepal, mengeluarkan segala otot-otot yang menjadi teriakan akan keinginan dalam sebuah perubahan. Perubahn untuk menjadi pemenang walau bukan dalam sebuah laga pertandingan memperebutkan piala adipati.
Wahai sang dewi, manja sifatmu kadang membuat keringatku enggan untuk terus bertahan dalam tubuhku, pertapaan yang selama ini menjadi kebanggaannya ternyata tak mampu menjadikan kepompong berubah menjadi kupu-kupu.
Wahai sang dewi, aku tau kalau semua ini adalah susunan kata-kata yang tak mungkin membuatmu paham akan rasaku, tetapi setidaknya diriku telah mengeluarkan racun tubuhku yang mampu membuatku lumpuh dalam kebisuanku.
Biarkan cagar angin menitipkan tulisan ini pada awan, sehingga awan mengantarkanya dengan hujan, dan telaga menyampaikannya ke lautan. Agar pantai, karang nelayan, dan kapal juga ikan bertasbih mendoakan perasaan ini untuk menjadi kasturi di pagi hari, yang dapat engkau hirup aromanya, yang dapat engakau nikmati indah panoramanya, sehingga embunpun mengamini kecantikanmu adalah kecantikan sorga yang abadi.

Jumat, 30 Juli 2010

MENULIS ITU MUDAH

Ternyata benar apa yang dikatakan oleh sastrawan sekaligus budayawan Kurtowijoyo bahwa hanya ada tiga cara untuk kita bisa menjadi penulis. yaitu menulis , menulis dan menulis. karena hanya dengan terus menerus menulis yang akan membuat kita menjadi penulis. penulis hebatpun tidak akan pernah dan tidak akan mungkin dikatakan sebagai penulis apabila tidak ada satu karyapun yang ditulisnya.

Penulis asal inggris, Gerald brenan (1894-1987) berkata “ awali setiap pagimu dengan menulis, karena dengan begitu akan membuatmu menjadi seorang penulis”. dalam menulis tidaklah membutuhkan banyak teori karena menulis tidak ubahnya seperti kita berkata-kata, Cuma untuk menjadi penulis yang baik ada beberapa hal yang butuh diperhatikan, antara lain:

1. suka membaca
2. kuasai tata bahasa
3. sabar

Agar tulisan lebih tepat sasaran atau lebih bernilai ada beberapa aspek yg harus dii fikirkan adalah apa tujuan dari penulisan itu apakah untuk menjelaskan atau menghibur atau bahkan untuk mempengaruhi. setelah itu sasaran penulisan yaitu siapa nantinya yang akan membaca tulisan tersebut. teman, anak muda, atau politikus. selanjutnya baru kita tentukan topiknya yang menyangkut ide utama yang nantinya akan dipersempit lalu diambil titik pointnya atau inti dari permasalahan yang akan kita tulis atau kita bahas dalam tulisan tersebut. nah mulailah dari sekarang untuk membiasakan menulis apapun itu. semoga sukses n semangat selalu...........(acheng)