Konon disuatu hari ada salah satu fakultas di Universitas Tidak Maju yang biasa disingkat UTM ingin merayakan hari jadinya. Yaitu Fakultas Ilmu g’ Jelas dan Ilmu g’ Pasti yang disingkat fakultas FIRASAT. Maka dikumpulkanlah beberapa perwakilan dari badan kelengkapan fakultas FIRASAT tersebut, mulai dari Himpunan Mahasiswa g’ Jelas (tu kan ikut-ikutan g’ jelas mahasiswanya) atau yang biasa disingkat HMJ, Unit Kegiatan Mencari Fakultas, jadi tugasnya dari unit ini tidak ada lain hanya mencari fakultasnya, klo sudah menemukan fakultasnya dia akan dibubarkan karena dianggap tugasnya sudah selesai. Dan perwakilan dari BEM (Badan Example Mahasiswa) yang katanya ini adalah unit tertinggi yang ada difakultas. Karena namanya badan example mahasiswa jadi yang duduk didalamnya adalah mahasiswa percontohan semua, dan itu sich katanya………..! jangan GR dulu, bisa-bisa menjadi percontohan pencabulan, ha…ha…ha….Tapi kita doakan semoga badan example kita memang benar-benar layak menjadi badan percontohan yang sesungguhnya.
Nah yang terakhir nich perwakilan dari Dewan Pencari Mahasiswa Fakultas atau yang biasa disebut DPMF. Konon dewan ini dibentuk karena mahasiswa fakultas FIRASAT pada hilang semuanya, g’ tau kemana larinya, g’ pernah masuk kuliah, g’ pernah ngerjakan tugas, g’ pernah mengadakan kegiatan baik diskusi atau semacamnya sehingga g’ pernah ada proposal yang masuk dan dana fakultas FIRASAT menumpuk tidak terserap sehingga untuk menghabiskan dananya fakultas FIRASAT ini harus jalan-jalan sebanyak dua kali, bayangkan? Ach , g’ usah dibayangkan udah jelas pasti uuuuueeenak pool rasanya.
Maka dengan beberapa pertimbangan dan rasa yang sangat khawatir karena anak didiknya pada hilang, maka dibentuklah DPMF atau dewan pencari mahasiswa fakultas yang tugasnya mencari mahasiswa fakultas FIRASAT yang hilang. Ternyata setelah dewan ini melakukan pencarian atau pemburuan terhadap mahasiswa-mahasiswa yang hilang, apa yang terjadi? Mereka menemukan mahasiswa FIRASAT diberbagai tempat seperti warung kopi, gedung DPRD, tempat mancing, dan di dalam Gua.
Setelah dilakukan introgasi kepada setiap mereka dari masing-masing tempat yang menjadi pilihan nongkrongnya dibanding harus datang ke kampus dan mengikuti kegiatan belajar mengajar atau perkuliahan, ternyata jawabannya bermacam-macam.
Deden, salah satu mahasiswa jurusan Ilmu Kompromi yang pada saat itu ditemukan nongkrong diwarung kopi, padahal seharusnya dia masuk dan mengikuti mata kuliah kompromi batin, menjawab dengan tenang, “ngapain kuliah? dosennya g’ bisa diajak kompromi. Masak saya udah semangat-semangatnya kuliah sampai g’ mandi, nyampe kampus malah disuruh tanda tangan saja. Klo cuma tanda tangan sich dari SD aq juga udah bisa ngapain ngabis-ngabisin uang klo hanya untuk belajar tanda tangan, mending ngopi walupun ngabisin uang tapi maknyos”. Jawab Deden dengan gaya sombongnya sambil menikmati secangkir kopi hitam dan menghembuskan asap rokoknya ke udara seakan-akan tiada lagi kenikmatan yang dapat menandingi. Diriku spontan menggeleng-gelengkan kepala seakan tak percaya mahasiswa yang kerjaannya mendengkur dan menghayal itu ternyata cerdas juga, gumamku. Tanpa pamit perwakilan dewan itu pergi dengan muka merah menahan malu.
Lain ladang, lain belalangnya, jadi lain orang lain juga isi otaknya. Toni mahasiswa jurusan salahlagi ditemukan berdiri tegak seorang diri di depan gedung DPRD dengan sebilah batang bambu ditangan yang diujung bambu tersebut berkibar bendera merah putih. Toni berteriak layaknya orang kesurupan menuntuk keadilan seadil-adilnya, “wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur saat sidang soal rakyat” begitulah terdengar sangat lantang dan penuh perjuangan toni menyanyikan lagu ternama Iwan Fals tersebut. Setelah ditemui dan diintrogasi kenapa memilih berteriak di bawah terik matahari dari pada harus masuk kuliah mengikuti mata kuliah salahlagi ya masyarakat ? toni menjawab: “ saya kuliah karena dirumah g’ betah di omelin ma ibu, bapak, nenek, kakek, juga buyut, sampe-sampe tetangga juga ikut-ikutan ngomel(kayak kontes aja semua pada ngomel……). Mereka ngomel karena saya g’ kerja katanya, jadi makhluk tidak berguna katanya, makanya saya mau kuliah awalnya emoh, tapi kenyataannya setelah kuliah saya juga hanya diomelin, di takut-takutin dengan banyaknya serjana pengangguran, diceramahin katanya mahasiswa taunya hanya minta kiriman. Alah klo itu mah diriku g’ dijelasin juga udah tau, makanya kami kuliah mau cari solusi dari semua itu tapi dosennya g’ pernah mengajari kita yang pasti-pasti, malah setiap mau bimbingan malah juga tambah diomelin klo aq g’ paham inilah, itulah, ya sudah dari pada hanya diomelin mending saya ngomelin mereka wakil rakyat, atau setidaknya saya belajar demo siapa tau ada yang mau bayar saya buat demo pak Budiono dengan bu Sri Mulyani yang sekarang sudah dipinang Bank dunia, atau jelasnya amerika, musuh besar kita. Kan lumayan dapat kerjaan sekaligus dapat bayaran uang, ha…ha….ha……..” jawabnya dengan panjang lebar sambil tertawa terbahak-bahak. Ternyata dia sudah sakit jiwa karena tekanan batinnya. Lagi-lagi aku geleng-geleng kepala, ternyata Toni yang dulunya terkenal pendiam dan rajin membaca novel-novel perjuangan itu sekarang telah mengalami gangguan jiwa karena tekanan dan tuntutan hidupnya. masaAllah…… hatiku kembali menangis ternyata pendidikan sekarang tidak hanya bisa membuat anak didiknya bisa pintar, juga cerdas tapi juga bisa membuat stress dan gila. Naudzubillah, bergegas ku tempelkan dahiku ke tanah penuh dengan debu untuk melakukan sujud sukur atas segala anugrah dan nikmat kesehatan yang telah tuhan berikan kepadaku. Ya tuhan jadikanlah hamba manusia yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Seloroh hatiku penuh gemetar dan rasa takut karena telah lama hamba lupa akan nikmat-MU ya Rabb.
Berbeda dengan Toni yang sekarang kerjaanya hanya membawa bendera merah putih kesana-kemari sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan dengan telanjang dada dan memakai ikat kepala dari kain berwarna merah. Novi mahasiswi cantik fakultas FIRASAT jurusan ilmu pusinglagi ditemukan memancing disebuah kolam tidak jauh dari kampus. Setelah diintrogasi kenapa tidak masuk kuliah padahal dia seharusnya mengikuti kuliah pengantar pusinglagi. Novi menjawab : “alah masuk ato g’ masuk ya sama aja” jawabnya santai, singkat tapi g’ jelas. Apanya yang sama? Tanya perwakilan dewan pencari mahasiswa tersebut penuh penasaran. “sama pusingnya dan tentu juga nilainya !” kembali Novi menjawab. “Ach yang bener, masak ia, masuk kuliah dengan g’ masuk kuliah nilainya bisa sama”, perwakilan itu kembali bertanya dengan penuh penasaran dan rasa tidak percaya seraya menggeserkan tempat duduknya untuk lebih mendekat ke tubuh Novi yang lagi asik memain-mainkan kailnya seakan-akan berisarat kepada ikan untuk memakan umpannya. “Iya bisalah masak bisadonk” jawabnya dengan gaya centil seorang gadis cantik dengan bulat mata pimpong dan sepasang lesung pipinya membuat perwakilan DPMF itu harus menelan kekecewaan karena g’ mungkin dia bisa menjadi pacarnya(alah menghayal mane……..). “caranya?” Tanyanya balik. “Nyontek dong………! Masak mahasiswa g’ tau? G’ gaul loch…….!” Sentaknya kepadaku tanpa perasaan dosa sedikitpun. “Eleh-eleh nich cewek apa kuntilanak sich kok dari tadi mainnya bentak-bentakan terus”, gumamnya dalam hati. Sambil mengelus dada dan agak sedikit menjauhkan kepala karena takut dibentak lagi, dia coba mengajukan pertanyaan kembali. “Emang g’ dimarahin nenk ama dosennya klo ketahuan?” Tanyaku dengan agak sedikit bergaya sok manis seperti pawang ular yang sedang menjinakkan ularnya. “Dosen itu juga pernah menjadi mahasiswa, jadi bukannya g’ tau tapi beliau g’ tega aja sama kita, jadinya pura-pura g’ tau ajah, gitu…….. udah sana-sana”, dia mengusir lelaki itu sambil mengayun-ayunkan kailnya agar lelaki itu cepat pergi dari sampingnya. “Gangu ajah, ga’ tau orang lagi mancing malah diwawancarai ajah, mending klo masuk acara mancing mania di TV keren, ini boro-boro masuk TV, masuk penjara mungkin!” Umpatnya dengan wajah penuh kekesalan dengan gaya sedikit tomboynya yang persis kayak koboy kehilangan kudanya.
Tanpa ba-bi-bu, lelaki itu langsung pergi, takut melihat wajah garangnya. “Apa kata dunia ?”katanya. Dia jadi ingat sebuah Film Naga Bonar yang dibintangi oleh Dedi Mizwar. Semua memang udah pada gila, dan sok tau! umpatnya setelah berada lumayan jauh dari gadis asal Tanggerang itu, walaupun sebenarnya dirinya juga membenarkan apa yang gadis tomboy itu katakan karena memang itulah kenyataan yang sering dia saksikan, bahkan anehnya kadang yang tidak pernah masuk atau jarang nongol dikelas nilainya bisa lebih tinggi dari pada yang rajin masuk dan rajin bertanya di kelas. Aneh, itulah dunia, yang semuanya serba menipu. Yang terpenting jangan sampai menjadi penipu. Itu saja!
Nah klo ini beda lagi, Juni namanya. Mahasiswi jurusan Sama Pusingnya atau yang lebih dikenal dengan singkatan Sasing itu ditemukan sedang duduk bersila di sebuah Gua tua yang letaknya sangat jauh dari keramaian. Untuk menjangkau tempat tersebut butuh perjalanan hampir dua hari dua malam, melewati jalan setapak dan perbukitan terjal. Untung lelaki perwakilan DPMF itu pernah menjadi anggota dari Mahasiswa Pencinta Alam jadi kondisi seperti itu sudah biasa dia alami. Setelah sampai di Gua tersebut, dia langsung mengajaknya pulang tanpa banyak tanya seperti biasanya yang dia lakukan pada kebanyakan mahasisiwa yang hilang. Karena dirinya sangat khawatir akan terjadi apa-apa terhadap gadis secantik dia jika berlama-lama di dalam gua yang sepi seorang diri. Namun Juni menolak ajakan lelaki itu. Juni berkilah belum mendapatkan jawaban katanya dan dia sudah berjanji tidak akan pulang sebelum mendapatkan jawabannya. Kamu butuh jawaban apa, dan bertanya sama siapa? Tanya lelaki itu pada Juni penuh dengan keheranan. Sebenarnya di benak lelaki itu terbersit jawaban kecil, mungkinkah dia lagi bertanya sama tuhan? Atau dia lagi menunggu jawaban dari pacarnya? Namun dia dikejutkan dan hampir terkencing-kencing karena tidak kuat menahan tawa setelah mendengar jawaban Juni atas pertanyaan lelaki itu. “Aku bertanya kepadanya, tapi dia tak pernah menjawab pertanyaanku”, jawabnya dengan lugu sambil menunjuk sebatang rumput yang sedang bergoyang. Dengan seketika lelaki itu berguling-guling diatas rumput yang bergoyang tersebut penuh dengan kegelian, ingin rasanya tertawa terbahak-bahak sambil loncat-loncat tapi tak mungkin karena dirinya bukanlah kuda lumping. dan lucunya hampir saja membuat dia ngompol dalam celananya karean tak tahan menahan tawa yang seketika itu dirasakannya. Juni, oh……. Juni, kenapa pula kau bertanya pada rumput yang bergoyang itu, dan apakah gerangan yang engkau tanyakan? Tanya lelaki itu dengan gaya seperti pahlawan bertopeng yang datang kesiangan dan lupa tidak pakai celana dalam. “Aku bingung akan negri ini, akan bangsa ini, akan agama ini, jika terus-terusan harus saling menyalahkan dan saling menjatuhkan serta tanpa peduli atas sesama karena kesibukannya masing-masing, kejujuran hanya ada di pelajaran SD dan tak akan pernah diterapkan karena mereka telah sarjana dan lupa, katanya Ebit tanyakan kepada rumput yang bergoyang, tapi jangankan menjawab, untuk bergoyang saja rumputnya enggan. Makanya aku bingung. Jawabnya dengan pebuh keluguan. Memang, Juni adalah mahasiswi yang lugu yang hanya selalu mendengarkan. Dia sangat pendiam tapi diamnya ibarat Tipe Recorder yang siap merekam berbagai macam kejadian yang dia dengar dan dia lihat disekitarnya. Diamnya adalah emas, namun karena terlalu sering diam sehingga teman-temannya mengganggapnya dia mahasiswi yang memiliki keterbelakangan mental, padahal otaknya terus berputar, ibarat mesin penggiling yang siap menghancurkan apapun yang masuk kedalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar