Malam ini aku akan kembali berkeluh kesah tentang wanita yang selama ini selalu menjadi bunga tidurku. Entahlah, sebenarnya dia tidak terlalu istimewa bahkan sedikitpun diriku tak berharap dia menjadi milikku. Namun perkenalanku dengannya membuat hatiku selalu berbicara lain. Fikiranku selalu bertolak belakang dengan perasaanku. Tingkah lakuku semakin tak dapat ku arahkan, ibarat bala tentara yang tak lagi patuh pada komando sang raja. Selalu berlaga dengan hanya mengharap simpati kanda. Sungguh luar biasa. Tubuh ini bukan lagi satu, tapi gabungan antara dia dan aku antara benci dan cinta, benci karena tubuh ini tak pantas untuk dirinya yang suci.
Wahai sang dewi, lepaskan panahan yang kau bidik dengan tatapan bulat matamu, yang kau tarik dengan lekukan lesung pipimu, dengan busur lentik bulu matamu. Agar tepat menancap di lubuk hatiku, dan akupun mati tanpa harus membayangkan manis senyummu yang tak mungkin menjadi hidangan pagiku.
Wahai sang dewi, lemparkan jaring yang kau ayun dengan jilbab hitammu, yang engkau rajut dengan kekuatan imanmu, dengan benang keikhlasan takbirmu. Agar aku tak dapat lagi berlari, pergi untuk menghampirimu, untuk menyentuh rambutmu yang tak mungkin menjadi belaian disetiap malamku.
Wahai sang dewi, dua kali telah kau buat diri ini terkapar dalam kesaktianmu, kesaktian yang kau peroleh dari ketulusan dan keindahan budi pekertimu. Yang telah menjadi maha guru dalam hidupku. Untuk mengubur kesombongan yang mungkin belum lulus dalan ujian nasionalku jika tak terbantu oleh perjuangan guru SMAku.
Wahai sang dewi, tegarnya hatimu memang sempat membuat hati ini bulat, tidak seperti buah jambu yang sering kau lukis dalam buku harianku. Sebulat batu karang yang berdiri kokoh ditepi lautan, menghadang ratusan bahkan ribuan terpaan ombak dalam perhitungan dewa.
Wahai sang dewi, lembut tanganmu telah membuat tangan ku terkepal, mengeluarkan segala otot-otot yang menjadi teriakan akan keinginan dalam sebuah perubahan. Perubahn untuk menjadi pemenang walau bukan dalam sebuah laga pertandingan memperebutkan piala adipati.
Wahai sang dewi, manja sifatmu kadang membuat keringatku enggan untuk terus bertahan dalam tubuhku, pertapaan yang selama ini menjadi kebanggaannya ternyata tak mampu menjadikan kepompong berubah menjadi kupu-kupu.
Wahai sang dewi, aku tau kalau semua ini adalah susunan kata-kata yang tak mungkin membuatmu paham akan rasaku, tetapi setidaknya diriku telah mengeluarkan racun tubuhku yang mampu membuatku lumpuh dalam kebisuanku.
Biarkan cagar angin menitipkan tulisan ini pada awan, sehingga awan mengantarkanya dengan hujan, dan telaga menyampaikannya ke lautan. Agar pantai, karang nelayan, dan kapal juga ikan bertasbih mendoakan perasaan ini untuk menjadi kasturi di pagi hari, yang dapat engkau hirup aromanya, yang dapat engakau nikmati indah panoramanya, sehingga embunpun mengamini kecantikanmu adalah kecantikan sorga yang abadi.
Wahai sang dewi, lemparkan jaring yang kau ayun dengan jilbab hitammu, yang engkau rajut dengan kekuatan imanmu, dengan benang keikhlasan takbirmu. Agar aku tak dapat lagi berlari, pergi untuk menghampirimu, untuk menyentuh rambutmu yang tak mungkin menjadi belaian disetiap malamku.
Wahai sang dewi, dua kali telah kau buat diri ini terkapar dalam kesaktianmu, kesaktian yang kau peroleh dari ketulusan dan keindahan budi pekertimu. Yang telah menjadi maha guru dalam hidupku. Untuk mengubur kesombongan yang mungkin belum lulus dalan ujian nasionalku jika tak terbantu oleh perjuangan guru SMAku.
Wahai sang dewi, tegarnya hatimu memang sempat membuat hati ini bulat, tidak seperti buah jambu yang sering kau lukis dalam buku harianku. Sebulat batu karang yang berdiri kokoh ditepi lautan, menghadang ratusan bahkan ribuan terpaan ombak dalam perhitungan dewa.
Wahai sang dewi, lembut tanganmu telah membuat tangan ku terkepal, mengeluarkan segala otot-otot yang menjadi teriakan akan keinginan dalam sebuah perubahan. Perubahn untuk menjadi pemenang walau bukan dalam sebuah laga pertandingan memperebutkan piala adipati.
Wahai sang dewi, manja sifatmu kadang membuat keringatku enggan untuk terus bertahan dalam tubuhku, pertapaan yang selama ini menjadi kebanggaannya ternyata tak mampu menjadikan kepompong berubah menjadi kupu-kupu.
Wahai sang dewi, aku tau kalau semua ini adalah susunan kata-kata yang tak mungkin membuatmu paham akan rasaku, tetapi setidaknya diriku telah mengeluarkan racun tubuhku yang mampu membuatku lumpuh dalam kebisuanku.
Biarkan cagar angin menitipkan tulisan ini pada awan, sehingga awan mengantarkanya dengan hujan, dan telaga menyampaikannya ke lautan. Agar pantai, karang nelayan, dan kapal juga ikan bertasbih mendoakan perasaan ini untuk menjadi kasturi di pagi hari, yang dapat engkau hirup aromanya, yang dapat engakau nikmati indah panoramanya, sehingga embunpun mengamini kecantikanmu adalah kecantikan sorga yang abadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar