Sabtu, 28 Juni 2014

Tiga fase untuk sebuah nilai sempurna

Ibuku pernah bercerita bahwa untuk mendapatkan hasil sempurna dalam melakukan kebaikan ada tiga fase yang biasanya harus kita lalui. Pertama pada saat ada orang yang membutuhkan bantuan kita. Nah disinilah fase pertama yang harus kita lewati. Yang memutuskan untuk tidak membantu padahal sebenarnya kita mampu berarti gagal untuk melewati fase pertama, sedangkan bagi mereka yang bersedia untuk membantu maka mereka termasuk yang lolos untuk fase pertama ini, dan berhak untuk lanjut ke fase selanjutnya yaitu fase kedua.
Di fase kedua ini tentu lebih berat cobaannya. Di fase ini kita di uji dengan kebutuhan kita sendiri. Contoh: yang tadinya kita hanya punya uang 1 juta rupiah. Disaat itu pula tetangga kita sakit dan masuk rumah sakit sehingga membutuhkan uang sebesar 1 juta. Sesuai dengan fase pertama tadi kita memutuskan untuk membantu pembiayaannya tersebut sehingga uang yang satu juta itu tadi kita gunakan untuk membantu pembiayaaan tetangga kita yang sedang sakit tadi. Dan ternyata dalam keadaan tidak punya uang sama sekali malah salah satu keluarga kita sakit sehingga kita butuh sejumlah uang untuk biaya rumah sakitnya. Nah disini biasanya kebanyakan dari kita menyesali keputusan pertama tadi. Nah bagi mereka yang menyesali atau bahkan menghujat kalaulah tuhan tak adil maka mereka gagal untuk melewati fase kedua ini. Namun bagi mereka yang tetap sabar dan tidak menyalahkan siapa-siapa merekalah yang berhak untuk lolos ke fase berikutnya yaitu fase ketiga atau fase terakhir.
Tidak mudah untuk lolos di fase yang terakhir ini, tidak sedikit yang akhirnya berubah haluan dari ikhlas menjadi tidak ikhlas, dari cinta menjadi benci, dari sabar menjadi tidak sabar, dari beriman menjadi tak berdaya. Ujian di fase terakhir ini memang kelihatan konyol namun itulah adanya, fakta berbicara demikian. Yang mana biasanya orang yang kita  bantu dengan segenap asa dan kemampuan malah berbalik arah menjadi menyerang kita, memfitnah kita atau mau mencelakakan kita. Nalar seakan tak mampu mencerna, diluar akal sehat manusia. Sehingga siapapun yang berada pada posisi ini namun masih tetap bisa berpikiran positif serta selalu memberikan maaf karena yakin bahwa semua sudah diatur oleh yang maha kuasa maka pastaslah kiranya jika tuhan memberikan balasan dengan sebaik-baik balasan yaitu keselamatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Semoga kita senantiasa dberi kekuatan  oleh allah untuk terus berbuat banyak kebaikan yang bisa memberi banyak manfaat. Amiinnn.....