Merasa Bisa atau Bisa Merasa adalah judul dari tulisan yang ditulis oleh Agung Praptapa seorang dosen sekaligus pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman. Beliau mengatakan bahwa dua kata tersebut memiliki makna yang berbeda bahkan berlawanan. Beliau juga mencontohkan dalam makna kearifan lokal jawa yang terdiri dari dua kata dalam dua penempatan. Dua kata yang dimaksud adalah “rumongso ” yang berarti “merasa” serta “biso” yang berarti “bisa”.atau “mampu”. Dua penempatan yang dimaksud adalah “rumongso biso” dan “biso rumungso”.
“rumongso biso” yang berarti “merasa bisa” memiliki konotasi yang negatif. Orang yang merasa bisa belum tentu dia bisa tapi orang yang “biso rumongso” yang dapat dimaknai “bisa merasa” cenderung lebih arif dan berkesan positif. Karena orang yang “merasa bisa” akan mengatakan kalau dirinya bisa walaupun sebenarnya tidak demikian sehingga orang yang “merasa bisa” cenderung bersifat sombong. Dan begitu sebaliknya orang yang “bisa merasa” akan mengatakan bisa apabila memang dia bisa dan akan berusaha untuk bisa apabila dia memang belum bisa dan ini akan kelihatan lebih arif dibanding kita merasa bisa tapi kenyataannya kita tidak bisa.
Saya berkesimpulan bahwa orang yang merasa bisa memang tidak selamanya negative, karena orang yang merasa bisa adalah orang yang memiliki tinggkat kepercayaan diri yang tinggi. Dan ini akan bernilai sangat positif jika memang orang tersebut begitu adanya dalam artian dia memang bisa. Cuma yang dipermasalahkan adalah mereka yang tidak bisa dan mengaku bisa yang tentunya ini adalah orang yang belum bisa jujur kepada dirinya sendiri.
Sedangkan orang yang bisa merasa tentunya adalah mereka yang tau siapa dirinya. Who am I ? dia bisa menempatkan dirinya disaat dia bisa dan dia juga akan mengatakan tidak bisa dikala dia memang benar-benar tidak bisa. Sehingga kejujuran memang sangat ditekankan dan diaplikasikan dengan tidak mengurangi tingkat kepercayaan diri dalam terus berusaha untuk menjadi bisa.
Saya jadi teringat waktu saya belajar di salah satu pondok moderen di Kabupaten Sampang yaitu Pondok Moderen Darussyahid. Disana saya diajarkan bahwasanya orang belajar dibagi menjadi empat kelompok.
Pertama adalah mereka tahu kalau dirinya tahu. Ini adalah tipe orang yang mengenali kemampuan dirinya dan mengetahui bahwa siapa dirinya sesungguhnya. Orang yang seperti ini memiliki dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama dia akan terus belajar untuk menambah pengetahuannya sedangkan kemungkinan yang kedua dia akan berhenti belajar karena dirinya sudah merasa bisa.
Kedua adalah mereka tahu kalau dirinya tidak tahu. Ini adalah tipe orang yang tidak jauh berbeda dengan diatas cuma dalam tingkat kepercayaan terhadap dirinya masih kurang karena belia mengetahui kalau kemampuannya masih belum apa-apa. Dan orang yang seperti ini akan selalu berusaha dan terus belajar untuk menjadi tahu seta dengan sendirinya tingkat kepercayaan dirinya akan meningkat dikala pengetahuannya bertambah.
Ketiga adalah mereka tidak tahu kalau dirinya tahu. Ini adalah tipe orang yang selalu merendah diri karena orang ini merasa dirinya belum bisa walaupun sebenarnya dia bisa. Tipe seperti ini adalah orang yang cenderung haus akan ilmu. Dan orang ini akan selalu belajar dan terus meningkatkan pengetahuannya tanpa akan merasa puas dengan apa yang telah dimilikinya.
Sedangkan yang terakhir adalah mereka yang tidak tahu kalau dirinya tidak tahu. Orang yang termasuk ke dalam golongan yang terakhir ini adalah orang yang sangat bebahaya karena orang ini tidak menyadari kalau dirinya tidak tahu dan otomatis kalau sedah tidak menyadari kalau dirinya tidak tahu tentunya orang ini tidak akan berusaha untuk menjadi tahu.
Maka pertanyaannya sekarang adalah kita termasuk orang yang golongan keberapa? Jawabanya ada pada diri anda sendiri karena yang sangat mengetahui akan diri anda adalah diri anada sendiri. Kalau diri anda sudah tidak mengenal diri anda apalagi orang lain yang belum tentu selalu memperhatikan anda atau mengenal anda secara lebih dekat.
Maka pesan dari saya adalah jadilah seperti padi, semakin ilmu kita bertambah maka usahakan kita semakin menunduk dalam artian tidak sombong dengan ilmu yang kita miliki karena ilmu yang ada didunia ini yang manusia pelajari hanya ibarat setetes air dilautan apabila dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki oleh Allah subhana wataala jadi tidak ada alasan kepada kita untuk merasa sombong dengan ilmu yang kita miliki. (Acheng)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar