
Keperhatinan terhadap anak jalanan ternyata juga dirasakan oleh seorang tokoh yang bernama Didit Hape. Di acara Musik dan Tokoh yang disiarkan oleh stasiun televisi Republik Indonesia (TVRI) pada hari minggu tanggal 23 Agustus 2009 itu Didit menceritakan awal terbentuknya sebuah sanggar yang dijadikan tempat belajar anak jalanan yang sekarang dikenal dengan nama sanggar Alang-alang.
Sedikitpun dia tidak pernah berfikir atau memiliki cita-cita untuk membuat sebuah sanggar tersebut. Cuman karena perjalanan karir dan pekerjaannya sebagai fotografi surat kabar yang sering mengambil gambar pedagang kaki lima yang sedang digusur, pengamen yang sedang di uber-uber petugas keamanan dsb. Membuat Didit selalu kefikiran. Setelah pulang kerja kadang bukan ketenangan atau kepuasan yang dia rasakan seperti layaknya pekerja-pekerja lainnya. Tapi bahkan berbagai pertanyaan menghantui fikirannya. Kefikiran terhadap anak-anak jalanan yang ditangkap oleh petugas lalu dibawa masuk kedalam truk, kemanakah dia dibawa? Ibu-ibu yang grobak dan tempat jualannya dihancurkan, kemanakah ibu-ibu itu sekarang? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin jawabannya tidak akan datang begitu saja.
Maka bermula dari itulah lelaki paruh baya itu mulai mengumpulkan anak-anak pengamen dan setiap malam kumpul disebuah terminal yang terkenal dengan terminal Joyoboyo. Dan perkumpulan itu diberi nama Sekolah Malam Pengamen atau yang biasa disingkat SMP oleh mereka. Yang awalnya hanya berjumlah 7 anak semakin bertambah dan sampai mencapai 40 anak jalanan. Ditempat itulah Didit mengajarkan tentang etika dan sopan santun dalam mengamen. Dan beliau juga bersukur karena metodenya sampai sekarang masih diterapkan oleh kebanyakan pengamen dikota surabaya. Sempat suatu ketika Didit dipanggil oleh petugas terminal dan tidak diperbolehkan kumpul diterminal itu lagi, alasannya mengganggu katanya. maka mulai saat itu Didit dan para anak jalanan tersebut pindah kesebuah tempat kosong tidak jauh dari terminal tersebut.
Lambat laun bergabung juga beberapa anak-anak pedagang asongan sehingga dibuat juga Sekolah Malam Asongan atau yang biasa disingkat SMA oleh mereka. Walaupun sekolah ini tidak formal dan menggunakan fasilitas seadanya tapi manfaat dan niat baik dari seorang Didit untuk memperhatikan anak-anak jalanan merupakan sebuah prilaku yang patut diacungi jempol.
Beliau juga menjelaskan bahwa belia memberi julukan para anak jalanan itu dengan panggilan anak negri. Karena kalau anak jalanan sudah terkesan negatif dan tidak berkekuatan hukum katanya. karena kalau anak negri diatur dalam Undang-undang 45 ayat 34 bahwa anak miskin dan terlantar adalah tanggung jawab pemerintah. Maka dari itu Didit berharap pemerintah tidak hanya menyalahkan mereka yang menjadi pengamen atau pedagang asongan sebagai perusak pandangan atau pengganggu ditempat umum. Bahwa kewajiban pemerintahlah untuk memberikan penghidupan yang layak dan melindunginya bukan malah di uber-uber atau dipukulinya.
Didit juga menjelaskan kenapa tidak memberi julukan anak bangsa atau anak negara, dan kenapa harus anak negri? “Karena kalau anak bangsa adalah kita semua dari sabang sampai marauke katanya adalah anak bangsa, sedangkan kalau anak negara adalah mereka yang ada dirumah tahanan seperti dimedaeng” tuturnya.
Dari sinilah sejarah Sanggar Alang-alang terbentuk. Dan sampai sekarang sanggar ini masih menjadi tempat belajar anak-anak pengamen dan pedagang asongan. (acheng)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar