Selasa, 06 Oktober 2009

Harapan Akan Sebuah Keadilan.......!

Sore itu aku seperti biasanya berjalan kaki dari kampus pulang dari internetan gratis. Memang setiap hari diwaktu luang aku selalu mengisinya dengan internetan. Yang kebetulan hari ini aku liburan panjang. karena di kampusku bisa internetan gratis sehingga aku manfatin. Yang kebetulan juga laptop pacarku dititipkan kepadaku karena dia masih liburan kekampung halaman.
Ngung.........ngung............. bunyi gas sepeda motor yang sengaja dibuat mainan dari belakang mengejutkanku. Spontan aku menoleh kearah bunyi tersebut. Wah ternyata imam temanku yang terkenal dengan ilmu bela dirinya. Dia pernah dikirim ke negara malaisia untuk mewakili indonisia. Tapi sayang dia cedra dan tidak berhasil memenangkan pertandingan.
“Wah...... dari mana ?” sapanya dengan sangat semangat seraya menjulurkan tangannya mengajakku untuk berjabat tangan sebagai tanda eratnya ikatan persaudaraan kita.
“Dari kampus, biasa cari internetan gratis. Kamu sendiri dari mana ?”Jawabku seraya melontarkan pertanyaan balik sambil menerima jabatan tangannya.
“Dari fakultas fisib lihat pengumuman penerima beasiswa.”
“Emang sudah keluar pengumumannya?” Tanyaku penuh rasa penasaran.
“Sudah tadi siang. Kamu belum lihat ta?” Dia balik bertanya kepadaku.
“Belum, gmn kamu lolos?” Tanyaku.
“Alhamdulilah aku lolos seleksi.” Jawabnya dengan sedikit menampakkan rasa sukur kapada tuhannya.
“Wah selamat klo gitu!” Ucapan selamat aku ucapkan seraya aku jabat tangannya dengan tanda aku turut bahagia atas rezeki yang diberikan oleh Allah untuk membantu meringankan beban biaya kuliahnya.
“Terimakasih sobat, semoga kamu juga lolos seleksi. Ya udah aku duluan key..........!” imam membalas ucapan selamatku seraya mendoakan semoga aku juga dapat beasiswa serta berpamitan untuk lebih dulu pulang., karena dia menaiki sepeda motor bersama teman kosnya.
Imam memang mahasiswa yang cerdas serta pintar membagi waktu. Sehingga sampai saat ini ditengah kesibukannya dia sudah berhasil meraih banyak prestasi baik dibidang akademik maupun organisasi. Beliau memang patut dijadikan contoh atau panutan dalam memanfaatkan waktu.
Sambil meneruskan perjalanan pulang aku melamun jauh membayangkan sosok seorang imam yang sangat istimewa dimataku. Karena walaupun dia cerdas dan termasuk orang yang tinkatan ekonomi menengah keatas sedikitpun dia tidak pernah merasa sombong bahkan dalam berteman pun beliau tidak pernah membeda-bedakan, buktinya disaat popularitasnya melambung tinggi karena kecerdasannya dia masih mau menganggapku yang pas-pasan ini sebagai temannya.
“Sungguh luar biasa............” gumamku dalam hati. Jadi pantaslah kalau disetiap ada seleksi beasiswa dia selalu lolos.
Tanpa terasa ternyata hari sudah beranjak malam. Dan saya sudah berada didepan kosanku. Tanpa ba-bi-bu aku langsung memasuki kamarku dan langsung mengambil peralatan mandi serta bergegas kekamar mandi untuk menghilangkan bau keringat dan rasa penat karena hampir seharian internetan. Setelah selesai mandi aku langsung solat magrib dan berdoa “ ya Allah ampunilah dosa hambamu ini dan dosa kedua orang tua kami serta sayangilah beliau seperti beliau menyayangi kami sewaktu kami masih kecil, dan tuntunlah kami kejalan yang engkau ridhoi. Serta berikan kami yang terbaik menurut-MU untuk dunia dan akhiratku. Karena hanya engkaulah yang maha mengetahui atas segala apa yang tidak kami ketahui. Tiada daya dan kekuatan kecuali atas izin dan kehendak-MU ya Allah, hanya kepada engkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan karena tiada yang sulit bagi-MU ya Allah.

***
Ke esokan harinya aku bangun lebih awal dari biasanya, karena sudah tidak sabar rasanya untuk melihat namaku terpampang di papan pengumuman bersama teman-teman yang lain yang juga lolos seleksi beasiswa. Dengan bergegas aku kekamar mandi dan mengguyur seluruh tubuh yang masih terasa kaku karena masih merasa ngantuk ini dengan air bak mandi yang lumayan terasa dingin dan membuat rasa ngantukku hilang dengan seketika.
Setelah mandi aku segera menunaikan ibadah solat subuh. Dan kali ini aku kembali berdoa dengan penuh harapan tuhan akan mendengar doaku. Selesai solat dan berdoa aku merapikan kamar kosku yang kelihatan sedikit berantakan karena sudah lama tidak tersentuh oleh penghuninya dikarenakan lebih sering internetan. Maklum mumpung ada internetan gratis biasanya sampai tidak sadar waktu.
Alarm handponeku berbunyi menunjukkan waktu sudah pukul 06.30. itu tandanya aku sudah harus bergegas berangkat kekampus tercinta. Memang sengaja alarmku di setting satu jam lebih awal dari biasanya. Karena hari ini adalah hari yang istimewa dan telah lama aku nanti-nantikan.
Dengan dibarengi ucapan bismillah dan pasrah penuh kepada yang maha kuasa aku ayunkan kaki kiriku keluar dari kamar kosku untuk menuju kampus tercintaku. Perjalanan memang masih terlihat sangat sepi hanya beberapa becak yang siap beroprasi berbaris di pinggiran jalan. Tampak beberapa orang pengemudi dengan topi dan handuk dibahunya. sebuah harapan akan pulang membawa uang sangat nampak jelas terekam di wajahnya.
Sebuah penantian terhadap sebuah harapan yang tidak jauh berbeda dengan manusia yang lainnya yaitu sebuah penghidupan atau sesuap nasi untuk melanjutkan hembusan nafas dalam sebuah pengabdian terhadap keluarga tecintanya. Di balik kerutan otot yang kian termakan usia masih setia mengayuh becak walau harus tertatih-tatih dengan imbalan hanya dua ribu rupiah sekali mengantarkan. Beginilah negri ini ...... pengangguran dimana-mana.........kemiskinan masih meraja lela.......... pemerintah seakan buta..........tidak seperti pada masa kampanye yang segalanya dijanjikan oleh para calon wakil rakyat tapi ternyata hanya sebuah angin surga.
Dan sekarang tinggallah sebuah kaos partai yang sudah lusuh oleh perasan keringat yang masih menempel ditubuhnya menjadi saksi bisu kebohongan para wakil rakyat yang katanya akan menyampaikan suara jeritan dan tangisan serta ratapan para rakyat kecil yang tertindas. bagaimana tidak kaos yang bertuliskan” kami siap mengemban amanah” hanya salah satu kata-kata busuk yang digunakan untuk bisa mencuri hati rakyat dan melenggang kesenayan dan setelah itu entah kemana menghilang jangankan membuatkan kaos untuk para penarik becak yang dulu menyumbangkan suaranya pada saat pemilu, membuka kaca mobil dinasnya pada saat lewat dalam acara kunjunganpun sudah sangat menjijikkan.
Jadi pantaslah kalau kang Iwan mengirim surat lewat lagunya untuk mengingatkan para wakil rakyat yang isinya
Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Disana..........digedung DPR
Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman-teman dekat
Apalagi sanak famili

Dihati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam

Dikantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negri ini
Dari sabang sampai marauke

Saudara dipilih bukan dilotre
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami taksudi memilih para juara
Juara diam, juara hek hek, juara hah...ha....ha....

Tidak terasa lamunanku kian jauh mengingat kembali lagu-lagu kang Iwan yang sarat dengan makna dan pesan moral tersebut. Dan lewat lagu inilah aku kembali berharap para wakil rakyat bisa menjadi wakil rakyat yang bisa merakyat yang selama ini dirindukan oleh rakyat indonesia. Dan tanpa terasa ternyata langkahku sudah berada didepan pintu gerbang kampus. Segera aku masuk menuju kantor fisib yang letaknya tidak begitu jauh dibelakang kantor pusat. Satelah sampai disana mataku langsung tertuju kepada sebuah papan pengumuman dan mencari pengumuman yang berisikan nama-nama yang lolos seleksi beasiswa tersebut.
Satu persatu kubaca nama-nama yang tertera dipengumuman tersebut sampai akhirnya aku sampai pada nama terakhir peserta yang lolos seleksi beasiswa tersebut. Herannya diriku tidak menemukan namaku. Dengan perasaan tidak percaya aku ulangi dan kubaca satu persatu dari sekian nama yang lolos dalam seleksi beasiswa kali ini tapi tetap saya tidak menemukan namaku. kini semakin jelaslah kalau namaku memang tidak ada dipengumuman itu.
Lemas, tidak percaya seraya berharap ada kesalahan dalam pengetikan menjadi jawaban dalam kebingungan walaupun kemungkinan itu hanya ada jika ramayana dalam kisah mahabarata hidup kembali dan menuliskan namaku dipengumuman itu.
Tuhan...............
Kemana hambamu akan bawa sedih ini
Jika memang benar hambamu tak layak mendapatkan beasiswamu
Tuhan ............
Terlalu hinakah hambamu ini
Sampai hambamu harus meratapi harapan panjang ini
Tuhan...........
Hamba paham pintu rizkimu luas dan tidak hanya disini
Tapi hamba juga paham tuhan bahwa ini satu-satunya harapan hamba selama ini
Untuk hamba bisa bayar uang semesteran minggu depan
Tuhan ..........
Memang hamba tak pantas untuk menyalahkan keputusanmu
Tapi hamba tak kuat menerima semua ini
Tuhan............
Berilah hambamu kekuatan
Temukanlah hambamu dengan kebahagiaan
Yaitu jalan yang engkau ridhoi
Semoga keadilan segera datang.

Hatiku terus berdoa dalam lantunan puisi sayu dengan dihiasi deraian air mata yang penuh pengharapan akan keadilan akan segera datang. Bagaimana tidak dalam daftar yang lolos seleksi beasiswa ternyata mereka yang sebagian besar tergolong ekonomi menengah keatas. Buktinya mereka kekampus dengan mengendarai sepeda motor, memiliki handpone dan mereka yang perokok berat. Lantas bagaimana denganku yang serba kekurangan. Jangankan kekampus naik sepeda motor mau naik sepeda enkol saja sampai sekarang hanya masih sebuah mimpi yang tidak tau kapan akhirnya. Walaupun Nidji mengatakan kalau mimpi adalah kunci. Jangankan memiliki handpone untuk dapat berteduh dari panas dan hujan saja saya harus mengabdi menjadi sebua takmir masjid. Jangankan merokok, untuk mengganjal perut lapar saja harus gali lobang tutup lobang layaknya lagu Roma Irama. Jangankan beli pulsa buat smsan, memikirkan biaya semesteran sudah tidak ketulungan.
Kalau yang dijadikan pertimbangan adalah Indeks Prestasi yang notabeni diperoleh dengan kecurangan karena setiap ujian saya yakin tidak akan lebih dari 20% yang menjawab dengan berlandaskan kejujuran. Lantas kapan mahasiswa yang kurang pintar dan kurang mampu mendapat kesempatan untuk belajar agar dapat menggapai cita-citanya. Kalau yang jadi landasan adalah mereka yang belum pernah mendapatkan beasiswa. Maka ini adalah mutlak kebohongan karena nama-nama yang tertera dipengumuman adalah wajah-wajah lama yang sudah sering bergelut dengan beasiswa bahkan ironisnya ada satu nama yang mendapatkan dua beasiswa.
Kalau bukan tiga diatas yang menjadi landasan pertimbangan para pengambil keputusan untuk menetapkan mahasiswa yang layak mendapatkan bantuan berupa beasiswa, lantas apa?
Apakah karena mereka tidak punya kekuasaan sehingga suara mereka tidak di dengar? ........................
Apakah karena mereka tidak paham sehingga mereka tidak akan menuntut haknya?....................................
Apakah karena mereka orang bodoh sehingga tidak perlu diperhatikan pendidikannya?......................................
Apakah karena mereka orang miskin sehingga harus dipandang sebelah mata?.......................................
Terus kapan anak-anak dari keluarga miskin mendapatkan kesempatan untk dapat menggapai cita-citanya?......................................
Terus kapan orang bodoh punya kesempatan belajar untuk menjadi pintar?........................................................................
Terus sampai kapan kita akan tertawa disaat orang disamping kita menangis?.............................................
“Ya tuhan..................
Bukankah beasiswa untuk membantu mereka yang kurang mampu?
lantas kapan bantuan belajar mahasiswa bisa tepat sasaran?
Terus sampai kapan ini semua akan kita biarkan ?
Haruskah aku bertanya kepada rumput yang bergoyang?
Hanya engkaulah yang tahu tuhan atas segala apa yang tidak kami ketahui” ratapku dalam kesunyian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar