1. Dalam Wikipedia bahasa Indonesia Ontologi disebut sebagai salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut mebahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri). Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme. Istilah istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah:
yang-ada (being)
kenyataan/realitas (reality)
eksistensi (existence)
esensi (essence)
substansi (substance)
perubahan (change)
tunggal (one)
jamak (many)
Sedangkan Epistemologi, adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat dan jenis pengetahuan. Epistimologi berasal dari bahasa yunani yaitu episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti kata atau pembicaraan atau ilmu. Epistimologi membahas tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.
Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
• Sedangkan aksiologi adalah Merupakan sikap etis berupa nilai yang harus diambil dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan terutama berkaitan dengan nilai-nilai yang diyakini sebagai kebenaran.
Ontologi ilmu komunikasi menelaah tentang obyek “ada” yang terdapat dalam berkomunikasi. Dalam hal ini obyek tersebut nyata dalam komunikasi, konkret dan merupakan sebuah realitas yang terlihat jelas. Ontology ilmu komunikasi termasuk juga di dalamnya unsur-unsur dalam ilmu komunikasi, berupa :
Sumber (Komunikator), penerima (komunikan), pesan (message), media(channel), hambatan (noise), dan respon (feedback).
Epistemologi ilmu komunikasi dapat kita artikan sebagai metode dalam mencari kebenaran berkomunikasi. Metode yang digunakan masih bersifat campuran seperti melakukan analisis, pengamatan, survey, dan lain sebagainya langsung kepada unsur-unsur komunikasi tersebut.
Sedangkan aksiologi dalam ilmu komunikasi berkaitan dengan nilai-nilai dan norma dalam berkomunikasi. Yaitu tentang bagaimana cara kita berkomunikasi dengan orang lain, etis atau tidak etis sikap, sifat dan prilaku kita dalam melakukan komunikasi tersebut, dan tentunya metode dan cara-cara tersebut berkaitan erat dengan nilai, moral dan etika dalam ruang lingkup sosial.
2. Di tinjau dari segi perkembangannya, seperti juga semua unsur kebudayaan manusia, ilmu merupakan gabungan dari cara-cara manusia sebelumnya dalam mencari pengetahuan. Pada dasarnya ditinjau dari sejarah berfikir manusia terdapat dua pola dalam memperoleh pengetahuan. Yang pertama adalah berfikir secara rasional. Dimana berdasarkan faham rasionalisme ini, ide tentang kebenaran sebenarnya sudah ada. Pikiran manusia dapat mengetahui ide tersebut , namun tidak menciptakannya dan tidak pula mempelajari lewat pengalaman. Dengan perkataan lain ide tentang kebenaran yang menjadi dasar bagi pengetahuannya. Diperoleh dari berfikir secara rasional, terlepas dari pengalaman manusia. System pengetahuan dibangun secara koheren di atas landasan-landasan pernyataan yang sudah pasti namun dari manakah kita mendapatkah kebenaran yang sudah pasti apabila kebenaran itu tercerai dari pengalaman manusia yang nyata? Disinilah pemikiran kaum rasionalisme mulai mendapatkan kesulitan untuk mendapatkan consensus yang dapat dijadikan landasan bagi kegiatan berfikir bersama. Oleh sebab itu maka muncullah kemudian suatu pola berfikir lain yang merupakan cara yang sama sekali berlawanan dengan rasionalisme yang dikenak dengan nama empirisme. Bosan dengan perdebatan yang tidak berkesudahan maka kaum empiris menganjurkan agar kita kembali kealam untuk mendapatkan pengetahuan. Menurut kaum empiris pengetahuan tidak ada secara apriori dibenak kita, melainkan harus diperoleh dari pengalaman. Lalu berkembanglah apa yang dinamakan pola berfikir empiris yang semula berasal dari sarjana islam dan kemudian terkenal didunia barat lewat tulisan Francis Bacon (1561-1626)dalam bukunya Novum Organum.
Setelah dua pola fikir tadi menjadi suatu acuan untuk mendapatkan pengetahuan. Maslahnya sekarang apakah pola fikir empiris ini membawa kita lebih dekat kepada kebenaran ? jawabannya ternyata tidak. Sebab gejala yang terdapat dalam pengalamn kita baru mempunyai arti kalau kita memberikan tafsiran terhadap mereka. Fakta yang ada sebagi dirinya sendiri tidak lah mampu berkata apa-apa. Kitalah yang memberikan arti : sebuah nama, sebuah tempat atau apa saja. Bintang bintang dilangit hanyalah tebaran kilau-kilau yang bisu sampai kita memberikan tafsiran terhadap ujud mereka. Disamping itu bila kita hanya mengumpulkan pengetahuan mengenai berbagai gejala yang kita temui dalam berbagai engalamn kita . lalu apakah gunanya semua kumpulan itu bagi kita ?pengetahuan yang diperoleh dengan cara ini hanyalah merupakan kumpulan pengetahuan serba aneka yang tak berarti. Lebih jauh lagi bagaimanakah cara kita mendapatkan pengetahuan yang utuh : apakah kita memungut sana memungut sini selayaknya kita mengumpulkan kerang-kerang dipantai? Disamping itu siapakah yang dapat menjamin bahwa pengetahuan yang dikumpulkan itu benar seperti yang dikatakan Charles Darwin bahwa tanpa penafsiran yang sungguh-sungguh maka (alam akan mendustai kita bila dia mampu). Ternytra bahwa pendekatan empiris inipun gagal untuk memecahkan masalah pokok untuk menemukan pengetahuan yang bener. Seperti biasanya waqktu mengendapkan sifat ekstrim dari tiap-tiap bentuk pemikiran . pemikiran yang radikal lambatlaun menjadi lebih moderat sehingga kompromi lebih mudah tercapai. Demikian juga dengan pendekatan rasional dan empiris yang membentuk dua kutub yang saling bertentangan akhirnya kedua belah pihak menyadari bahwa rasionalisme dan empirisme mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing . Walaupun begitu pendekatan rasional dalam menyusun teori ini harus dilengkapi dengan pendekatan empiris dalam menguji kebenaran teori yang diajukan itu. Bagaimanapun meyakinkannya suatu penjelasn teorirtis yang diberikan, teori yang dikemukakan ini hanya bersifat dugaan sementara mengenai objek yang sedang dipermasalahkan.
3.

Gambar diatas adalah skema atau bagan tentang metode keilmuan. Kita bisa melihat dalam bagan tersebut langkah-langkah dalam metode keilmuan, hubungan-hubungan logis yant\g terdapat, dan bebbagai teknik atau metode yang berguna dalam tahap tahap tersebut. Kita melihat kegunaan logika dan matematika dalam proses deduktif untuk menurunkan ramalan atau hipotesis dari pengetahuan keilmuan. Kita melihat proses pengujian hipotesis, yakni mula-mula dengan deduksi konsekuensi hipotesistersebut, dan kemudian mengujinya secara empiris dengan pertolongan metode keilmuan. Metode penelitian ini dikembangkan diatas dasar asas-asas statistika, agar kesimpulan yang ditarik dapat dipertnggung jawabkan secara keilmuan.
Dunia rasional dan dunia empiris membentuk sebuah dunia keilmuan yang merupakan gabungan dari dua dunia tersebut. dunia rasional adalah koheren, logis dan sistematis dengan logika deduktif sebagai sendi pengikatnya. Dipihak lain terdapat dunia empiris yang objektif dan berorientasi kepada fakta sebagai mana adanya. Kesimpulan umum yang ditarikdari dunia empiris secara induktif merupakan batu ujian kenyataan dalam menerima atau menolak suatu kebenaran. Kebenaran keilmuan buka saja merupakan kesimpulan rasional yang koheren dengan system pengetahuan yang berlaku, tetapi juga harus sesuai dengan kenyataan yang ada. Kekuatan berfikir otak manusia digabung dengan pemanfaatan panca indra telah membawa manusia lebih asasi telah membudayakan umat manusia.
4. Kaitan Ilmu Teknologi dan Etika & Kaitan Ilmu Teknologi dan Ideologi
Kaitan Terhadap Ideologi
Ideologi merupakan pemahaman dan pemikiran dasar pedoman hidup bagi manusia. Dengan perkembangan ilmu teknologi, terjadi perubahan kuat ideology manusia menjadi 2 bagian kelompok. Salah satu nya di mana sekarang kelompok masyarakat lebih lapar dan haus akan ilmu pengetahuan dan teknologi.Pada masyarakat ini mereka mulai melupakan ideology utama mereka kepada sang Pencipta. Masyarakat ini berlomba-lomba mencari dan menggali ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun tidak semua kelompok masyarakat melupakan ideology utama terhadap Sang Pencipta. Sisanya ada pada kelompok kedua di mana masyarakat masih memegang teguh ideology dasar mereka kepada Sang Pencipta. Harus di akui bahwa perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi itu penting. Hanya saja masyarakat atau pun kita pribadi tidak melupakan ideology utama kita.
Kaitan Terhadap Etika
Perkembangan ilmu dan teknologi saat ini tentu sudah akan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia,baik itu pola tingkah laku dan prilaku masyarakat sampai terhadap kebiasaan, khususnya etika dalam masyarakat. Berkat kemajuan dalam bidang ini maka pemenuhan kebutuhan manusia bisa terpenuhi secara cepat dan mudah. Namun tanpa di sadari bahwa ilmu dan teknologi dapat mempengaruhi etika karena ilmu dan teknologi mempnyai nilai bebas. Ketika ilmu dan teknologi diterapkan dalam kehidupan manusia memang bersifat bebas, namun hal ini dapat merusak etika dan kepribadian masyarakat. Secara konseptual maka hal ini berarti bahwa suatu masyarakat harus menetapkan strategi pengembangan ilmu dan teknologinya agar sesuai dengan nilai-nilai dan etika kemasyarakatan dalam bersosial.
5. Perbedaan Ilmu Sosial Dan Ilmu Alam Ditinjau dari:
1. Epistemologi
Dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat peast, ilmu-ilmu social agak tertinggal dibelakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-ilmu social takkan pernah menjadi ilmu dalam artian yang sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat secara lambat laun ilmu social akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai oleh ilmu-ilmu alam. Menurut kalangan lain tak dapat disangkal dewasa ini ilmu-ilmu social masih berada dalam tingkangkat yang belum dewas. Walaupun begitu mereka beranggapan bahwa penelitian-penelitian di bidang ini akan mencapai derajat yang sama seperti penelitian-penelitian ilmu alam. Terdapat beberapa kesulitan untuk merealisasikan tujuan ini karena beberapa sifat dari objek yang diteliti ilmu-ilmu social. Seperti diketahui ilmu social membahas tentang tingkah laku manusia.
2.Ontologi
gejala fisik seperti unsure kimia bukanlah suatu individu melainkan barang mati. Ahli ilmu alam tidak usah meperhitungkan tujuan atau motif dari planit atau lautan. Tetapi nahli ilmu sosialmempelajari manusia yang merupakan mahkluk yang penuh tujuan dalam tingkah lakunya. Manusia bertidak sesuai dengan keinginannya dan mempunyai kemampuan untuk melakukan pilihan atas tindakan yang akan diambilnya. Hal ini menyebabkan mausia untuk melakukan perubahan dalam tindakannya. Karena objek penelaahan ilmu social sangat dipengaruhi oleh keinginan dan pilihan manusia maka gejala social beribah secara tetap sesuai dengan tindakan manusia yang didasari keinginan dan pilihan tersebut.
Akhli ilmu allam menyelidiki prose salami dan menyususn hokum yang bersifat umum mengenai proses tadi. Dia tidak bermaksud mengubah alam atau harus setujudan tidak setuju dengan proses tersebut. Dia hanya berharap bahwa pengetahuan mengenaai gejala fisik dari alam akan memungkinkan manusia untuk memanfaatkan proses alam. Jika seorang akhli ilmu alam menyusun suatu hipotesa untuk menerangkan gejala fisik tertentu maka diatau dengan pasti bahwa kesimpulannya yang bersifat umum tidak akan mengubah karakteristik objek yang ditelaqah. Jika seorang akhli astronomi merumuskan suatu kesimpulan umum mengenai orbit dari p;anet-planet maka dia tidak mengharapkan bahwa planet-planet tersebut akan memberikan reaksi terhadap terorinya. Benda-benda dirgantara tersebut akan tetap tidak berubah oleh kesimpulan tersebut. Mereka tidak akan mengadakan kongres untuk berkampanye dalam rangka mendukung hokum pengorbitan yang baru.
Ilmu=ilmu sosial tidak bisa terlepas dari jalinan unsure-unsur kejadian social. Kesimpulan umum mengenai suatu gejala social bisa mempengaruhi kegiatan social tersebut . jika masyarakat menerima suatu teori mengenai gejala social tertentu maka terdapat kemungkinan bahwa mewreka memutuskan untuk mengadakan penyesuaian sesuai dengan penbgetahuan baru tersebut, sehingga untuk selanjutnya kesim[ulamn itu tidak berlaku lagi. Hal ini menyebabkan lebih sukarnya membuat ramalan dibidang ekonomi dan pendidikan dibandingkan dengan astronomi atau fisika . jika seorang akhli social meramalkan bahwa sejumlah 600 orang akan meninggal karena kecelakaan lalu-lintas selama hari Lebaran yang akan datang maka besar kemungkinan ramalan itu akan meleset. Masyarakat akan terkejut oleh pengumuman tersebut dan melakuykan usaha-usaha untuk mengurangi bahaya kecelakan dengan berbagai usaha penyelamatan. Penemuan dibidang ilmu alam baru akan kehilangan artinya setelah digantikan oleh penemuan baru yang mampu menerangkan bahwa penelaahan yang sama secara lebih baik. Penemuan dibidang ilmu ilmu social akan kehilangan artinya setelah pengetahuan tersebut menyebabkan manusia mengubah kondisi social mereka.
Ilmu alam
Ontologis
Tetap/statis : jika dilihat dari sifatnya akan berakibat pada pengukuran (measurement), deduksi, konseptualisasi.
Deduksi adalah proses penurunan teori dan akan dapat diturunkan rumus yang lebih mudah.
Konseptualisasi dalam mmbua suatu konsep (rumus menjadi lebih mudah)dilihat dari prespektif (sudut pandang).
Empiris-obyektif
Empiris, terikat dalam dimensi ruanga dan waktu.
Obyektif, Nampak dan bisa diraba.
Tunggal, satu; tidak ada lagi.
Epistemologi
Eksplanation (menerangkan), menjelaskan dan memiliki ukuran.
Generalitation, sebuah kesimpulan yang digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala yang sama dan bisa diperkirakan kesimpulan/hasil dan hubungan dari gejala-gejala tersebut.
Ilmu sosial
Ontologis
Berubah/dinamis : bersifat tidak tetap
Contoh: sikap,matif, partisipasi dan lain sebagainya.
Non empiris-subyektif (kebalikan ilmu alam).
Majemuk, beraneka ragam.
Epistemologi
Exploration (menggali), tidak memiliki ukuran
Contoh: penlitian Clifford Beertz mengenai pembagian social.
Islam; terbagi atas, santri, abangan, priayi dll.
Specification
Contoh: tinjauan media terhadap suatu partisipasi politik di Indonesia yaitu daerah Madura. Hasilnya tidak dapat digunakan sebagai patokan untuk seluruh wilayah yang ada di Indonesia karena tentu ada perbedaan di masing-masing wilayah.
Daftar pustaka
Suriasumantri, Jujun. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
Ontologi. 2009. http://id.wikipedia.org.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar